Minggu, 15 Mei 2011

JURNAL MANAJEMEN BISNIS
Volume 2, Nomor 1 Januari 2009
ISSN: 1978−8339
ii
DAFTAR ISI ISSN: 1978−8339
JURNAL MANAJEMEN BISNIS
Halaman
Analisis Pengaruh Cash Position, Debt to Equity Ratio, dan Return on Assets terhadap
Dividend Payout Ratio
Lisa Marlina dan Clara Danica ........................................................................................................... 1 – 6
Balanced Scorecard: Pengukuran Kinerja Perusahaan dan Sistem Manajemen Strategis
Friska Sipayung ................................................................................................................................... 7 – 14
Menciptakan Pengalaman Konsumen dengan Experiential Marketing
Endang Sulistya Rini............................................................................................................................ 15 – 20
Pengaruh Harga (Price) dan Kualitas Pelayanan (Service Quality) terhadap Kepuasan Pasien
Rawat Inap di RSU Deli Medan
Arlina Nurbaity Lubis dan Martin ........................................................................................................ 21 – 24
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Kerja Pegawai pada Pegawai Dinas Luar
Asuransi Jiwa Bersama Bumiputera 1912 Cabang Setiabudi Medan
Yulinda dan Sri Wulan Harlyanti.......................................................................................................... 25 – 32
1
ANALISIS PENGARUH CASH POSITION, DEBT TO EQUITY RATIO, DAN
RETURN ON ASSETS TERHADAP DIVIDEND PAYOUT RATIO
Lisa Marlina dan Clara Danica
Departemen Staf Pengajar FE USU
Abstract
The purpose of the research is to examine the factors which is influence Dividend Payout Ratio in
manufactur sector of Bursa Efek Indonesia (BEI). The research use fundamental factors of company: financial
ratio which is liquidity ratio represent by Cash Position (CP), leverage ratio represent by Debt Equity Ratio
(DER) as independent variable, profitability ratio represent by Return On Assets (ROA), and dependent variable
represent by Dividend Payout Ratio (DPR). The result of research indicate that the fundamental ratio which is
consist of Cash Position, Debt to Equity Ratio and Return on Assets are together have significant effect to
Dividen Payout Ratio. The result also indicate that Cash Position variable and Return on Assets variable is
partiality have positive and significant effect to Dividen Payout Ratio, but Debt to Equity Ratio has no
significant effect to Divident Payout Ratio.
Keywords: Dividen Payout Ratio(DPR), Cash Position (CP), Debt to Equity Ratio (DER) and Return on Assets
(ROA)
1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Perkembangan ekonomi suatu negara dapat
diukur dengan banyak cara, salah satunya dengan
mengetahui tingkat perkembangan dunia pasar modal
dan industri-industri sekuritas pada negara tersebut.
Pasar modal (capital market) merupakan pasar untuk
berbagai instrumen keuangan jangka panjang dalam
bentuk ekuitas dan hutang yang jatuh tempo dari
lebih satu tahun. Dalam aktivitas dipasar modal, para
investor memiliki harapan dari investasi yang
dilakukannya, yaitu yang berupa capital gain dan
dividen.
Kebijakan pembayaran dividen mempunyai
pengaruh bagi pemegang saham dan perusahaan yang
membayar dividen. Para pemegang saham umumnya
menginginkan pembagian dividen yang relatif stabil
karena hal tersebut akan mengurangi ketidakpastian
akan hasil yang diharapkan dari investasi yang mereka
lakukan dan juga dapat meningkatkan kepercayaan
pemegang saham terhadap perusahaan sehingga nilai
saham juga dapat meningkat.Bagi perusahaan,pilihan
untuk membagikan laba dalam bentuk deviden akan
mengurangi sumber dana internal nya,sebaliknya jika
perusahaan menahan labanya dalam bentuk laba
ditahan maka kemampuan pembentukan dana
internalnya akan semakin besar yang dapat digunakan
untuk membiayai aktivitas perusahaan sehingga
mengurangi ketergantungan perusahaan terhadap dana
eksternal dan sekaligus akan memperkecil resiko
perusahaan.
Kebijakan dividen perusahaan tergambar pada
dividend payout rationya yaitu persentase laba yang
dibagikan dalam bentuk deviden tunai,artinya besar
kecilnya dividend payout ratio akan mempengaruhi
keputusan investasi para pemegang saham dan disisi
lain berpengaruh pada kondisi keuangan perusahaan.
Pertimbangan mengenai dividend payout ratio
ini diduga sangat berkaitan dengan kinerja keuangan
perusahaan. Bila kinerja keuangan perusahaan bagus
maka perusahaan tersebut akan mampu menetapkan
besarnya dividend payout ratio sesuai dengan harapan
pemegang saham dan tentu saja tanpa mengabaikan
kepentingan perusahaan untuk tetap sehat dan
tumbuh.
Posisi kas atau likuiditas dari suatu
perusahaan merupakan faktor penting yang harus
dipertimbangkan sebelum mengambil keputusan
untuk menetapkan besarnya dividen yang akan
dibayarkan kepada para pemegang saham. Oleh
karena dividen merupakan cash outflow, maka makin
kuatnya posisi kas atau likuiditas perusahaan berarti
makin besar kemampuannya membayar dividen
(Riyanto, 2001: 202).
Debt to Equity Ratio (DER) merupakan rasio
hutang terhadap modal. Rasio ini mengukur seberapa
jauh perusahaan dibiayai oleh hutang, dimana
semakin tinggi nilai rasio ini menggambarkan gejala
yang kurang baik bagi perusahaan (Sartono 2001: 66).
Peningkatan hutang pada gilirannya akan
mempengaruhi besar kecilnya laba bersih yang
tersedia bagi para pemegang saham termasuk dividen
yang diterima karena kewajiban untuk membayar
hutang lebih diutamakan daripada pembagian dividen.
Jurnal Manajemen Bisnis, Volume 2, Nomor 1, Januari 2009: 1 - 6
2
Return on Assets (ROA) menunjukkan
kemampuan modal yang diinvestasikan dalam total
aktiva untuk menghasilkan laba perusahaan. Semakin
tinggi Return on Assets (ROA) maka kemungkinan
pembagian dividen juga semakin banyak (Sartono,
2001).
Perusahaan yang terdaftar di BEI tidak
semuanya membagikan dividen kepada para
pemegang sahamnya, baik itu dalam bentuk dividen
tunai maupun dividen saham. Hal tersebut disebabkan
oleh adanya pertimbangan-pertimbangan yang
berbeda dalam membuat keputusan kebijakan dan
pembayaran dividen dalam setiap perusahaan.
Sektor manufaktur merupakan sektor yang
paling banyak membagikan dividen kepada para
pemegang sahamnya selama kurun periode 2004-2007
dibandingkan sektor lain yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia (BEI). Selama periode 2004-2007, ada
sebanyak 24 perusahaan manufaktur yang
membagikan dividen kepada para pemegang
sahamnya.
1.2. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang
diuraikan diatas, maka penulis merumuskan masalah
sebagai berikut:
“Apakah Cash Position (CP), Debt to Equity Ratio
(DER) dan Return on Assets (ROA) mempunyai
pengaruh secara signifikan terhadap Dividend Payout
Ratio (DPR) pada perusahaan manufaktur di Bursa
Efek Indonesia (BEI)?”
1.3. Hipotesis
Berdasarkan rumusan masalah penelitian
maka hipotesisnya adalah sebagai berikut: “Cash
Position (CP), Debt to Equity Ratio (DER) dan Return
on Assets (ROA) mempunyai pengaruh secara
signifikan terhadap Dividend Payout Ratio (DPR)
pada sektor manufaktur di Bursa Efek Indonesia
(BEI)”.
1.4. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah:
”Mengetahui pengaruh Cash Position (CP), Debt to
Equity Ratio (DER) dan Return on Assets (ROA)
secara signifikan terhadap Dividend Payout Ratio
pada sektor manufaktur di Bursa Efek Indonesia
(BEI)”.
2. METODE PENELITIAN
2.1. Defenisi Operasional
Pada penelitian ini terdapat dua variabel yaitu
variabel terikat (dependen) dan variabel bebas
(independen). Variabel terikat (Y) adalah Dividend
Payout Ratio (DPR), sedangkan variabel bebas (X)
terdiri dari Cash position (CP), Debt to Equity Ratio
(DER) dan Return on Assets (ROA).
Variabel Independen (X):
a. Cash Position (X1)
Cash position dihitung berdasarkan perbandingan
antara saldo kas akhir dengan laba bersih setelah
pajak.
Rumus:
laba bersih setelah pajak
Cash position = Saldo kas akhir
b. Debt to Equity Ratio (X2)
Debt to Equity Ratio (DER) merupakan rasio
hutang terhadap modal sendiri. Rasio ini
mengukur seberapa besar perusahaan dibiayai
oleh hutang dibanding dengan modal sendiri.
Rumus:
total al sendiri
DER total hu g
mod
= tan
c. Return on Assets (X3)
Return on Assets (ROA) dihitung berdasarkan
perbandingan laba bersih setelah pajak terhadap
total aktiva yang dimiliki perusahaan.
Rumus:
total aktiva
ROA= Laba bersih setelah pajak
Variabel Dependen (Y):
Dividend Payout Ratio (Y)
Dividend payout ratio diukur dengan
membandingkan dividen kas per lembar saham
terhadap laba yang diperoleh per lembar saham.
Rumus:
laba yang diperoleh per lembar saham
DPR= dividen kas per lembar saham
2.2. Populasi dan Sampel
Populasi yang digunakan dalam penelitian ini
adalah semua perusahaan manufaktur yang terdaftar
(listing) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada periode
Januari 2004 sampai dengan Desember 2007, yaitu
sebanyak 142 perusahaan. Penarikan sampel yang
dilakukan oleh penulis adalah dengan menggunakan
desain sampel non probabilitas dengan metode
“judgment sampling”. Judgment Sampling adalah
salah satu jenis purposive sampling dimana peneliti
memilih sampel berdasarkan penilaian terhadap
beberapa karakteristik anggota populasi yang
disesuaikan dengan maksud penelitian (Kuncoro,
2003: 119).
Lisa Marlina dan Clara Danica Analisis Pengaruh Cash Position…
3
Kriteria penarikan sampel yang digunakan
oleh peneliti adalah sebagai berikut:
a. Emiten yang selalu listing di Bursa Efek
Indonesia (BEI) selama periode penelitian, yaitu
2004-2007.
b. Emiten yang memiliki data laporan keuangan
yang lengkap selama periode penelitian, yaitu
2004-2007.
c. Emiten yang selalu membagikan dividen selama
periode penelitian, yaitu 2004-2007.
Berdasarkan karateristik penarikan sampel,
maka diperoleh sampel penelitian sebanyak 24
perusahaan.
2.3. Metode Analisis Data
a. Analisis Deskriptif
Metode analisis deskriptif merupakan metode
yang digunakan untuk menganalisis data data yang
tersedia dan diolah sehingga diperoleh gambaran yang
jelas mengenai fakta fakta dan hubungan antar
fenomena yang diteliti.
b. Analisis Statistik
Model analisis yang digunakan adalah model
analisis regresi linier berganda.Model ini digunakan
untuk mengetahui pengaruh variabel bebas terhadap
variabel terikat dengan persamaan sebagai berikut:
Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + e
Dimana:
Y = Dividend Payout Ratio (DPR)
a = Konstanta
X1 = Cash Position (CP)
X2 = Debt to Equity Ratio (DER)
X3 = Return on Assets (ROA)
b1,2,3 = Koefisien regresi variabel X1,2,3
e = error
Model regresi berganda yang dipakai dalam
penelitian ini telah memenuhi syarat asumsi klasik
yaitu uji normalitas, uji multikolonieritas, uji
autokorelasi dan uji heterokedastisitas.
c. Koefisien Determinasi
Koefisien determinasi dapat dilihat pada nilai
Adjusted R Square yang menunjukkan seberapa besar
variabel independen dapat menjelaskan variabel
independen. Semakin tinggi nilai Adjusted R Square
maka berarti semakin baik model regresi yang
digunakan karena menandakan bahwa kemampuan
variabel bebas menjelaskan variabel terikat juga
semakin besar,demikian pula apabila yang terjadi
sebaliknya.
d. Pengujian Hipotesis
(1) Uji secara Simultan (Uji F)
Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui apakah
variabel bebas secara serempak mempunyai
pengaruh yang signifikan terhadap variabel
terikat.
Bentuk pengujian:
H0: b1=b2=b3= 0, artinya variabel Cash Position
(CP), Debt to Equity Ratio (DER) dan Return
on Assets (ROA) yang terdapat pada model ini
secara serempak tidak mempunyai pengaruh
yang signifikan terhadap Dividend Payout
Ratio (DPR).
H1: b1 ≠ b2 ≠ b3 ≠ 0, artinya variabel Cash
Position (CP), Debt to Equity Ratio (DER)
dan Return on Assets (ROA) yang terdapat
pada model ini secara serempak berpengaruh
signifikan terhadap Dividend Payout Ratio
(DPR). Pada penelitian ini nilai Fhitung akan
dibandingkan dengan Ftabel pada tingkat
signifikan (α ) = 5%.
Kriteria penilaian hipotesis pada uji-F ini adalah:
Terima H0 bila Fhitung ≤ Ftabel
Tolak H0 (terima H1) bila Fhitung > Ftabel
(2) Uji Secara Parsial (Uji t)
Pengujian ini dilakukan untuk menguji apakah
setiap variabel bebas mempunyai pengaruh yang
signifikan terhadap variabel terikat.
Bentuk pengujian:
H0: b1=b2=b3= 0, artinya tidak terdapat pengaruh
yang signifikan dari Cash Position (CP), Debt
to Equity Ratio (DER) dan Return on Assets
(ROA) secara individual terhadap Dividend
Payout Ratio (DPR).
H1: b1 ≠ b2 ≠ b3 ≠ 0, artinya terdapat pengaruh
yang signifikan dari Cash Position (CP), Debt
to Equity Ratio (DER) dan Return on Assets
(ROA) secara individual terhadap Dividend
Payout Ratio (DPR).
Pada penelitian ini nilai thitung akan dibandingkan
dengan ttabel pada tingkat signifikan (α ) = 5%.
Kriteria pengambilan keputusan pada uji-t ini
adalah:
H0 diterima jika : thitung ≤ ttabel
H1 diterima jika : thitung > ttabel
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
a. Regresi Linear Berganda
Tabel 1 menunjukkkan hasil estimasi regresi
melalui pengolahan SPSS 12.0 for windows.
Jurnal Manajemen Bisnis, Volume 2, Nomor 1, Januari 2009: 1 - 6
4
Tabel 1. Hasil Estimasi Regresi Coefficients(a)
Model Unstandardized Coefficients
Standardized
Coefficients t Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) 10.624 5.879 1.807 .074
CP 3.603 1.748 .190 2.061 .042
DER 5.088 2.750 .175 1.850 .068
ROA 1.219 .205 .570 5.961 .000
Sumber: Hasil olahan SPSS 12.0 for windows
Dari Tabel 1 dapat diperoleh persamaan regresi linear berganda sebagai berikut:
Y = 10,624 + 3,603 X1 + 5,088 X2 + 1,219 X3 + e
Dimana:
Y = Dividend Payout Ratio (DPR)
X1 = Cash Position (CP)
X2 = Debt to Equity Ratio (DER)
X3 = Return on Assets (ROA)
b. Koefisien Determinasi
Tabel 2. Koefisien Determinasi Model Summary(b)
Model R
R
Square
Adjusted
R Square
Std. Error of
the Estimate
Durbin-
Watson
1 . .542(a) .294 .270 21.08003 1.977(a)
Sumber: Hasil olahan SPSS 12.0 for windows
Nilai Adjusted R Square pada Tabel 2 Adalah
0,27 berarti variabel Cash position, Debt to Equity
Ratio dan Return on Assets dapat menjelaskan
variabel Dividen Payout Ratio hanya sebesar 27% saja
sedangkan 73% dijelaskan oleh variabel-variabel lain
yang tidak termasuk dalam model.Artinya variabel
bebas yang terdapat pada model ini tidak cukup kuat
untuk memperediksi variabel terikat. Hal ini
kemungkinan besar disebabkan model ini murni hanya
menggunakan faktor fundamental perusahaan dan
sama sekali tidak memasukkan faktor pasar sebagai
variabel bebasnya.Secara logis keputusan perusahaan
harusnya bukan hanya berdasarkan faktor fundamentalnya
saja tetapi juga harus mempertimbangkan
faktor faktor lain diluar perusahaan termasuk juga
untuk keputusan deviden.
c. Pengujian Hipotesis
(1) Uji secara Simultan (Uji F)
Berdasarkan hasil SPSS pada Tabel 3
diperoleh nilai Sig. F sebesar 0,000 yang lebih kecil
dari 0,05 dan nilai Fhitung sebesar 12,227 yang lebih
besar dari Ftabel yang hanya 3,00 mengindikasikan
bahwa 0 H ditolak dan 1 H diterima sehingga dapat
disimpulkan bahwa variabel Cash Position, Debt to
Equity dan Return on Assets pada model ini secara
serempak berpengaruh secara signifikan terhadap
variabel Dividen Payout Ratio.
(2) Uji Secara Parsial (Uji t)
Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui
signifikansi pengaruh variabel bebas secara individual
(parsial) terhadap variabel terikat.
Tabel 3. Uji Statistik F ANOVA(b)
Model
Sum of
Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression 16299.330 3 5433.110 12.227 .000(a)
Residual 39104.351 88 444.368
Total 55403.681 91
Sumber: Hasil olahan SPSS 12.0 for windows
Tabel 4. Uji Statistik t Coefficients(a)
Model
Unstandardized
Coefficients
Standardized
Coefficients t Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) 10.624 5.879 1.807 .074
CP 3.603 1.748 .190 2.061 .042
DER 5.088 2.750 .175 1.850 .068
ROA 1.219 .205 .570 5.961 .000
Sumber: Hasil olahan SPSS 12.0 for windows
Lisa Marlina dan Clara Danica Analisis Pengaruh Cash Position…
5
Pada Tabel 4 dapat dilihat hasil uji
signifikansi parsial masing-masing variabel sebagai
berikut:
a) Variabel Cash Position mempunyai pengaruh
yang signifikan terhadap Dividen Payout Ratio
karena mempunyai tingkat signifikansi lebih kecil
dari 0,05 yaitu 0,042 (0,042 < 0,05).Persamaan regresi yang terdapat pada tabel 1 memperlihatkan koefisien dari Cash Position adalah sebesar 3,603, angka ini menunjukkan variabel Cash Position selain berpengaruh secara signifikan juga berpengaruh secara positif dimana jika Cash Position mengalami kenaikan 1 kali maka akan terjadi kenaikan Dividen Payout Ratio sebesar 3,603 kali dan sebaliknya jika Cash Position mengalami penurunan maka Dividen Pay Out Ratio juga mengalami penurunan. Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Sudarsi (2000,4) yang menyatakan dividen merupakan cash out flow tentu saja memerlukan posisi cash yang kuat sehingga mampu membayar dividen.Hal ini tentu dapat di mengerti sebab pembayaran Dividen tunai merupakan arus cash keluar yang tentu saja memerlukan tersedianya cash yang cukup atau posisi likuiditas harus terjaga sehingga walaupun perusahaan memperoleh laba yang tinggi dan beban hutang beserta bunga yang rendah namun jika tidak didukung oleh posisi cash yang kuat maka kemampuan pembayaran dividennya rendah.Oleh sebab itu pihak manajemen dituntut untuk tetap mengelola kasnya atau aktiva-aktiva yang setara dengan kas secara benar sehingga likuiditas perusahaan tidak terganggu. b) Variabel Debt to Equity Ratio tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap Dividen Payout Ratio karena tingkat signifikansinya lebih besar dari 0,05 yaitu 0,068 (0,068 > 0,05).
Persamaan regresi pada tabel 1 memperlihatkan
koefisien Debt to Equity Ratio sebesar 5,088,
angka menunjukkan jika Debt to Equity Ratio
naik sebesar 1 kali maka Dividen Payout Ratio
akan mengalami kenaikan sebesar 5,088 kali.Hasil
penelitian ini tidak sesuai dengan teori yang
dikemukakan oleh Sartono (2001: 66) yaitu
semakin tinggi Debt to Equity Ratio semakin
berkurang kemampuan perusahaan membayar
dividen sebaliknya semakin turun Debt to Equity
Ratio semakin tinngi kemampuan perusahaan
membayar dividen.Komitmen perusahaan disektor
manufaktur untuk melakukan pembayaran dividen
secara teratur menyebabkan kemampuan
pembayaran dividen tidak dipengaruhi oleh besar
kecilnya hutang perusahaan bahkan kenaikan
hutang dapat menigkatkan kemampuan
perusahaan membayar dividen selama
penggunaan hutang harus selalu diiringi dengan
peningkatan laba perusahaan. Hal ini sesuai
dengan teori keuangan yang menyatakan jangan
lakukan hutang baru jika tidak menghasilkan
tambahan laba.
c) Variabel Return on Assets mempunyai pengaruh
yang signifikan terhadap Dividen Payout Ratio
karena tingkat signifikansinya lebih kecil dari
0,05 yaitu 0,000 (0,000 < 0,05). Persamaan
regresi pada tabel 1 memperlihatkan koefisien
variabel Return On Asset sebesar 1,219, jika
Return On Asset mengalami penigkatan 1 kali
maka akan meningkatkan Dividen Payout Ratio
sebesar 1,219 kali. Hal ini sesuai dengan teori
yang dikemukakan oleh Sartono (2001 : 122)
yang menyatakan semakin tinggi Return On Asset
maka kemungkinan pembagian Dividen semakin
besar. Dengan kata lain semakin besar keuntungan
yang diperoleh semakin besar kemampuan
perusahaan membayar Dividen.Hal ini
menunjukkan perusahaan selalu berusaha
menigkatkan citranya dengan cara setiap
peningkatan laba akan diikuti dengan peningkatan
porsi laba yang di bagi sebagai dsividen dan juga
dapat mendorong peningkatan nilai saham
perusahaan. Namun sebaiknya perusahaan juga
tidak mengabaikan kesehatan pendanaan
perusahaan yang ditandai dengan peningkatan
ketergantungan terhadap dana internal yang
bersumber dari laba ditahan sebab jika
pertumbuhan dan perkembangan perusahaan
dilakukan dengan cara mengurangi
ketergantungan terhadap dana eksternal dan
menggantinya dengan sumber dana internal maka
selain dapat menurunkan resiko perusahaan juga
bisa memperbesar kepemilikan para pemegang
saham pada perusahaan. Artinya peningkatan nilai
perusahaan yang ditandai dengan peningkatan
nilai saham tidak sepenuhnya akibat peningkatan
dividen tetapi juga karena peningkatan ekuiti
dalam bentuk laba ditahan sehingga pertambahan
kekayaan pemegang saham bukan hanya karena
perolehan dividen tetapi juga disebabkan
peningkatan kepemilikan dalam bentuk laba
ditahan.
4. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan
yang telah dikemukakan sebelumnya, maka
kesimpulan penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Variabel Cash Position (CP), Debt to Equity
Ratio (DER) dan Return on Assets (ROA)
Jurnal Manajemen Bisnis, Volume 2, Nomor 1, Januari 2009: 1 - 6
6
berdasarkan hasil uji simultan(uji statistik F)
berpengaruh secara signifikan terhadap variabel
Dividend Payout Ratio (DPR).
b. Variabel Cash Position (CP) dan Return on Assets
(ROA) mempunyai pengaruh positif dan
signifikan terhadap Dividen Payout Ratio (DPR)
sedangkan variabel bebas yang lain, yaitu Debt to
Equity Ratio (DER) tidak mempunyai pengaruh
yang signifikan terhadap Dividen Payout Ratio
(DPR) berdasarkan hasil uji parsial (Uji Statistik
t).
c. Nilai Adjusted R Square dalam penelitian ini
adalah sebesar 0,27. Hal ini berarti 27% variasi
dari Dividen Payout Ratio (DPR) dijelaskan oleh
ketiga variabel bebas sedangkan sisanya 73%
dijelaskan oleh faktor-faktor lain diluar model
penelitian.
5. SARAN
a. Faktor faktor yang mempengaruhi dividen payout
ratio pada penelitian ini hanya terbatas pada
informasi-informasi internal masing-masing
perusahaan yang berdasarkan laporan keuangan
perusahaan. Oleh karena itu, disarankan agar
penelitian selanjutnya juga menggunakan
informasi eksternal perusahan yang menyangkut
kondisi makro ekonomi seperti Gross Domestic
Product (GDP), tingkat inflasi, suku bunga, nilai
tukar dan lain lain.
b. Untuk menjaga loyalitas pemegang saham
terhadap perusahan sebaiknya posisi kas dan
kemampuan untuk memperoleh laba dapat
dipertahankan dan ditingkatkan agar kemampuan
perusahaan dalam membayar dividen tetap terjaga
dan tentu saja tanpa mengabaikan pengendalian
terhadap resiko perusahan berupa peningkatan
pemakaian dana internal dan otomatis juga terjadi
peningkatan kepemilikan dari pemegang saham.
c. Pemberdayaan hutang secara optimal dan dengan
pembiyaan hutang yang efisien akan memberikan
pengaruh yang positif dan signifikan terhadap
kemampuan perusahan dalam membayar dividen.
DAFTAR PUSTAKA
Brigham, Eugene dan Joel F. Houston. 2001.
Manajemen Keuangan. Alih Bahasa: Ali
Akbar Yulianto. Edisi Kedelapan. Jakarta:
Erlangga.
Darmadji, Tjiptono. 2006. Pasar Modal di
Indonesia: Pendekatan Tanya Jawab. Edisi
Kedua. Jakarta: Salemba Empat.
Harahap, Sofyan Syafri. 2006. Analisis Kritis atas
Laporan Keuangan. Jakarta: PT
RajaGrafindo Persada.
Helmi, et al. 2007. Analisis data Penelitian
(Menggunakan Program SPSS). Medan:
USU Press.
Kuncoro, Mudrajat. 2003. Metode Riset untuk
Bisnis dan Ekonomi. Jakarta: Erlangga.
Kuswadi. 2004. Memahami Angka-Angka dan
Manajemen Keuangan Bagi Orang Awam.
Jakarta: PT Elex Media Komputindo.
Nachrowi, D. 2006. Pendekatan Populer dan
Praktis Ekonometri: Untuk Analisis
Ekonomi dan Keuangan. Jakarta: Lembaga
Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas
Indonesia.
Nasution, Hasanul Aswadi. 2004. Analisis Faktor-
Faktor yang Mempengaruhi Dividend
Payout Ratio pada Perusahaan Manufaktur
Go Public di Bursa Efek Jakarta. Tesis
Program Pasca Sarjana Universitas Sumatera
Utara.
Riyanto, Bambang. 2000. Dasar-Dasar
Pembelanjaan Perusahaan. Edisi Keempat.
Yogyakarta: BPFE.
Sartono, Agus. 2001. Manajemen Keuangan ”Teori
dan Aplikasi”. Edisi Keempat. Yogyakarta:
BPFE.
Sudarsi, Sri 2002. Analisis Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi Dividen Payout Ratio pada
Industri Perbankan yang Listed di Bursa
Efek Jakarta (BEJ). Jurnal bisnis dan
ekonomi.
Sugiyono. 2003. Metode Penelitian Bisnis. Edisi
Kelima. Bandung: CV. Alfabeta.
Sundjaja, Ridwan dan Inge Barlian. 2002.
Manajemen Keuangan Dua. Edisi Ketiga.
Jakarta: PT Prenhallindo.
Sutrisno. 2000. Manajemen Keuangan: Teori,
Konsep dan Aplikasi. Yogyakarta: Ekonosia.
Tandelilin, Eduardus. 2001. Analisis Investasi dan
Manajemen Portofolio. Edisi Pertama.
Yogyakarta: BPFE.
Umar, Husein. 2000. Research Methods in Finance
and Banking. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka
Utama.
Walsh, Ciaran. 2004. Key Management Ratios:
Rasio-rasio Manajemen Penting. Edisi
ketiga. Jakarta: Erlangga.
Friska Sipayung Balanced Scorecard: Pengukuran Kinerja Perusahaan…
7
BALANCED SCORECARD:
PENGUKURAN KINERJA PERUSAHAAN
DAN SISTEM MANAJEMEN STRATEGIS
Friska Sipayung
Staf Pengajar Fakultas Ekonomi USU
Abstract
Nowadays, the companies are in the middle of the information competition century. To achieve
competitive success, the century information environment requires the new ability of the companies must be
owned by the manufacturing and services. A company's ability to process information from a variety of
instruments is absolutely need, steer the company to across the complex competitive environment. Company
requires instrument which capable of explaining various aspects of the environment and performance in
monitoring of travel towards a promising future. Balanced Scorecard provides an instrument that is required to
steer the company toward the future success of the competition. An accurate understanding about the goals and
methods for achieving it is very vital. Balanced Scorecard translates mission and strategy of the company in to a
comprehensive measure that provides a framework for measurement and strategic management system.
Scorecard measures the performance of companies on the four perspectives of balanced: financial, customer.
internal business processes, and learning growth. Balanced Scorecard enables companies to record financial
performance results as well as monitor progress in building the company's ability and to obtain intangible assets
that required for future growth.
Keywords: balanced scorecard, performance, and trategic management system
PENDAHULUAN
1. Lingkungan Operasi Baru
Lingkungan operasi baru (New Operating
Environment) perusahaan abad informasi dibangun
dengan seperangkat asumsi operasi yang baru (Kaplan
& Norton, 2000 : 3)
a. Lintas Fungsi (Cross Function), para manajer
tidak semata-mata memperhatikan fungsinya,
tetapi menerapkan integrasi fungsi yang bertujuan
untuk mengurangi friksi dan konflik,
mempercepat proses produksi, cepat menanggapi
dan mengatasi keluhan pelanggan.
b. Hubungan Pelanggan dan Pemasok (Links to
Customer and Suplier), perusahaan berhubungan
dengan pelanggan dan pemasok melalui transaksi
bisnis yang wajar (arm's-length transactions).
Perusahaan menciptakan kegiatan terpadu, dengan
tujuan, menciptakan efisiensi, meningkatkan
kualitas, antisipasi waktu sepanjang rantai nilai
(value chain), teknologi informasi dapat
mendukungnya.
c. Segmentasi Pelanggan (Customer Segmentation),
perusahaan harus belajar menyediakan produk dan
jasa yang sesuai dengan pesanan segmen
pelanggan yang berbeda, tanpa harus dibebani
pengeluaran biaya operasi perusahaan yang tinggi,
karena produksi yang sangat bervariasi dan
bervolume rendah.
d. Skala Global (Global Scale), dalam masyarakat
global pembatasan negara tidak mempengaruhi
persaingan. Persaingan pokok antara perusahaan
domestik dengan perusahaan internasional adalah
pada sistem informasi.
e. Inovasi (Innovation), penemuan baru (invention)
dan pembaharuan (innovation) merupakan faktor
yang sangat penting bagi perusahaan. Penelitian
dan pengembangan menjadi sangat penting untuk
mewujudkan keunggulan kompetitif (competitive
advantage).
f. Pekerja Keras yang berpengetahuan (Knowledge
Worker), semua pekerja harus memberikan
kontribusi nilai sesuai dengan apa yang mereka
ketahui dan dengan informasi yang dapat mereka
berikan. Melakukan investasi, mengelola dan
mengembangkan pengetahuan setiap pekerja
menjadi amat penting bagi keberhasilan
perusahaan.
Dalam upaya mengubah diri agar berhasil
dalam persaingan di masa depan, banyak perusahaan
berpaling kepada sejumlah inisiatif perbaikan antara
lain:
- Manajemen mutu terpadu (TQM)
- Sistem produksi dan distribusi Just In Time
- Persaingan berdasarkan waktu
Jurnal Manajemen Bisnis, Volume 2, Nomor 1, Januari 2009: 7 – 14
8
- Produksi yang ramping
- Membangun perusahaan yang berpusatkan
pelanggan (customer-focused)
- Manajemen biaya berdasarkan aktivitas
- Pemberdayaan pekerja
- Rekayasa ulang
Setiap program perbaikan ini terbukti telah
mampu menghasilkan kesuksesan. Masing-masing
program bersaing untuk mendapatkan waktu, energi
dan sumber daya para eksekutif. Dan setiap program
menawarkan terobosan kinerja dan penciptaan nilai
yang meningkat atas unsur perusahaan. Tujuan
program-program ini bukanlah kepada perbaikan
kinerja incremental atau untuk sekedar bertahan
hidup; tujuannya adalah kinerja yang diskontinyu,
yang memungkinkan perusahan berhasil dalam
persaingan di abad informasi ini.
Namun banyak dari program perbaikan ini
memberikan hasil yang mengecewakan. Programprogram
tersebut seringkali terfragmentasi. Tidak
terkait dengan strategi perusahaan, atau memberikan
hasil yang berarti secara finansial dan ekonomis.
Terobosan kinerja memerlukan manajemen yang
digunakan oleh sebuah perusahaan. Perjalanan menuju
masa depan yang lebih kompetitif, padat teknologi
dan ditentukan oleh kapabilitas tidak dapat dicapai
semata-mata melalui pemantauan dan pengendalian
berbagai ukuran kinerja finansial masa lalu.
2. Konsep dan Definisi
Saat ini, ada tiga model sistem pengukuran
kinerja terintegrasi yang sangat populer dan
digunakan secara luas di dunia industri atau
perusahaan yaitu: Balanced Scorecard dari Harvard
Business School, Integrated Performance
Measurement System (IPMS) dari Centre for Strategic
Manufacturing University of Strathclyde, dan
Performance Prism dari kolaborasi antara Accenure
dengan Cranfield School of Management (Cambridge
University) (Neely & Adams, 2000).
Balanced scorecard dikembangkan pada
tahun 1993 oleh Prof. Robert Kaplan dan David
Norton, dari Harvard Businesss School dan hingga
kini masih terus diperbaiki (David, 2006 : 226).
Kaplan & Norton (2000 : 17) mengemukakan,
Balanced scorecard adalah suatu kerangka kerja
untuk mengintegrasikan berbagai ukuran yang
diturunkan dari strategi perusahaan, yaitu ukuran
kinerja finansial masa lalu dan memperkenalkan
pendorong kinerja finansial masa depan, yang
meliputi perspektif pelanggan, proses bisnis internal,
dan pembelajaran serta pertumbuhan, diturunkan dari
proses penerjemahan strategi perusahaan yang
dilaksanakan secara eksplisit dan ketat ke dalam
berbagai tujuan dan ukuran yang nyata. Walaupun
demikian, Balanced Scorecard bukan merupakan
sistem pengukuran semata. Berbagai perusahaan yang
inovatif menggunakan scorecard sebagai kerangka
kerja proses manajemen perusahaan. Pearson and
Robinson (2007 : 254) mendefinisikan balanced
scorecard sebagai satu kumpulan dari empat ukuran
yang berkaitan langsung dengan strategi suatu
perusahaan: kinerja keuangan, pengetahuan mengenai
pelanggan, proses bisnis internal, serta pembelajaran
dan pertumbuhan.
Balanced Scorecard (kartu stok berimbang)
merupakan sekelompok ukuran yang berkaitan
langsung dengan strategi suatu perusahaan. Balance
Scorecard mengarahkan suatu perusahaan untuk
mengaitkan strategi jangka panjangnya dengan
sasaran dan tindakan yang nyata. Balanced Scorecard,
seperti yang disajikan pada gambar 1, mengandung
definisi yang tepat mengenai visi dan strategi
perusahaan. Visi dan strategi tersebut dikelilingi oleh
empat kotak tambahan. Setiap kotak mencerminkan
perspektif yang memiliki tujuan, ukuran, target, dan
inisiatif (Pearson and Robinson, 2007 : 255).
FINANSIAL
PROSES
BISNIS
INTERNAL
PEMBELAJARAN
&
PERTUMBUHAN
PELANGGAN
VISI
DAN
STRATEGI
Gambar 1. Balanced Scorecard, Memberi Kerangka Kerja
untuk Penerjemahan Visi dan Strategi ke dalam
Empat Perspektif
Sumber: Kuncoro, 2005 : 297
3. Mengapa Balanced Scorecard dibutuhkan?
Ada prinsip yang menyatakan: “If you can't
measure it, you can't manage it.”
Sistem pengukuran yang diterapkan perusahaan
mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap
perilaku manusia di dalam maupun di luar organisasi.
Untuk berhasil dan tuimbuh dalam persaingan abad
informasi, perusahaan harus menggunakan sistem
pengukuran dan manajemen yang diturunkan dari
strategi dan kapabilitas yang dimiliki perusahaan.
Sayangnya, banyak perusahaan yang mencanangkan
Friska Sipayung Balanced Scorecard: Pengukuran Kinerja Perusahaan…
9
strategi tentang hubungan dengan pelanggan,
kompetensi utama, dan kapabilitas perusahaan ketika
proses memotivasi dan mengukur kinerja masih
dilaksanakan dengan menggunakan berbagai ukuran
finansial. Tekanan pengukuran kinerja pada ukuran
finansial, yang merupakan “language of business”
ternyata tidak cukup. (Kaplan & Norton, 2000 : 19)
Oleh karena itu diperlukan pengukuran
kinerja terpadu, yaitu ukuran keuangan dan non
keuangan. Pengukuran kinerja terpadu adalah
pengukuran keuangan yang dipadukan dengan
pelanggan (customer), proses internal, para pekerja
dan sebagainya. Salah satu bentuk pengukuran kinerja
terpadu adalah Balanced Scorecard. Balanced
Scorecard tetap mempertahankan ukuran finansial
sebagai suatu ringkasan penting kinerja material dan
bisnis, hanya ditambah dengan seperangkat ukuran
yang lebih luas dan terpadu, yang mengaitkan
pelanggan perusahaan saat ini, proses internal, kinerja
pekerja dan sistem dengan keberhasilan finansial
jangka panjang.
Balanced Scorecard melengkapi seperangkat
ukuran finansial kinerja masa lalu dengan ukuran
pendorong (drivers) kinerja masa depan. Tujuan dan
ukuran scorecard diturunkan dari visi dan strategi.
Tujuan dan ukuran memandang kinerja perusahaan
dari empat perspektif: finansial, pelanggan, proses
bisnis internal, serta pembelajaran dan pertumbuhan.
Empat perspektif ini memberi kerangka kerja bagi
Balanced Scorecard (David, 2006 : 450)
BALANCED SCORECARD SEBAGAI SISTEM
MANAJEMEN
Balanced Scorecard menekankan ukuran
kinerja terpadu dan merupakan bahagian sistem
informasi kepada karyawan (information system for
employee) pada setiap jenjang organisasi. “Karyawan
garis depan (front line employee) harus mengerti
konsekwensi keuangan dari keputusan dan tindakan
mereka; para eksekutif senior harus memahami
berbagai faktor yang mendorong keberhasilan
finansial jangka panjang. Tujuan dan ukuran dalam
Balanced Scorecard lebih dari sekedar sekumpulan
ukuran kinerja finansial dan nonfinansial khusus;
semua tujuan dan ukuran ini diturunkan dari suatu
proses atas ke bawah (top-down) yang digerakkan
oleh misi dan strategi unit bisnis.
Balanced Scorecard seharusnya menerjemahkan
misi dan strategi unit bisnis ke dalam berbagai tujuan
dan ukuran. Balanced Scorecard menyatakan adanya
keseimbangan antara berbagai ukuran eksternal para
pemegang saham dan pelanggan, dengan berbagai
ukuran internal proses bisnis penting, inovasi, serta
pembelajaran dan pertumbuhan. Keseimbangan juga
dinyatakan antara semua ukuran hasil - apa yang
dicapai oleh perusahaan pada waktu yang lalu -
dengan semua ukuran faktor pendorong kinerja masa
depan perusahaan. Scorecard juga menyatakan
keseimbangan antara semua ukuran hasil yang
objektif dan mudah dikuantifikasi dengan faktor
penggerak kinerja berbagai ukuran hasil yang
subjektif dan agak berdasarkan pertimbangan sendiri.
Balanced Scorecard lebih dari sekedar sistem
pengukuran taktis atau operasional. Perusahaan yang
inovatif menggunakan scorecard sebagai sebuah
system manajemen strategis, untuk mengelola strategi
jangka panjang. Perusahaan menggunakan fokus
pengukuran scorecard untuk menghasilkan berbagai
proses manajemen penting:
1. Memperjelas dan menerjemahkan visi dan
strategi.
Proses scorecard dimulai dengan tim
manajemen puncak yang bersama-sama bekerja
menerjemahkan strategi unit bisnis ke dalam berbagai
tujuan strategis yang spesifik. Untuk menetapkan
berbagai tujuan finansial, tim ini harus
mempertimbangkan apakah akan menitikberatkan
kepada pertumbuhan pendapatan dan pasar,
profitabilitas atau menghasilkan arus kas (cash flow).
Khusus untuk perspektif pelanggan, tim manajemen
harus menyatakan dengan jelas pelanggan dan segmen
pasar yang diputuskan untuk dimasuki.
Setelah tujuan finansial dan pelanggan
ditetapkan, perusahaan kemudian mengidentifikasi
berbagai tujuan dan ukuran proses bisnis internal.
Identifikasi semacam ini merupakan salah satu inovasi
dan manfaat utama dari pendekatan scorecard.
Keterkaitan yang terakhir, tujuan pembelajaran dan
pertumbuhan, memberi alasan logis terhadap adanya
kebutuhan investasi yang besar untuk melatih ulang
para pekerja, dalam teknologi dan sistem informasi,
serta dalam meningkatkan berbagai prosedur
organisasional. Semua investasi dalam sumber daya
manusia, sistem dan prosedur menghasilkan inovasi
dan perbaikan yang nyata pada proses bisnis internal,
untuk kepentingan pelanggan dan pada akhirnya,
untuk kepentingan para pemegang saham.
2. Mengkomunikasikan dan mengaitkan berbagai
tujuan dan ukuran strategis.
Tujuan dan ukuran strategis Balanced
Scorecard dikomunikasikan ke seluruh organisasi
melalui surat edaran, papan bulletin, video dan bahkan
secara elektronis melalui jaringan komputer.
Komunikasi tersebut memberi informasi kepada
semua pekerja mengenai berbagai tujuan penting yang
harus di capai agar strategi organisasi berhasil.
Beberapa perusahaan berusaha untuk menguraikan
Jurnal Manajemen Bisnis, Volume 2, Nomor 1, Januari 2009: 7 – 14
10
ukuran strategis tingkat tinggi scorecard unit bisnis ke
dalam ukuran yang lebih spesifik pada tingkat
operasional.
Scorecard juga memberi dasar untuk
mengkomunikasikan strategi unit bisnis untuk
mendapatkan komitmen para eksekutif korporasi dan
dewan direksi. Scorecard mendorong adanya dialog
antara unit bisnis dengan eksekutif korporasi dan
anggota dewan direksi. Dialog tersebut tidak hanya
mengenai sasaran-sasaran finansial jangka pendek,
tetapi juga mengenai perumusan dan pelaksanaan
strategi yang menghasilkan terobosan kinerja masa
depan. Di akhir proses pengkomunikasian dan
pengaitan, setiap orang di dalam perusahaan
seharusnya sudah memahami tujuan-tujuan jangka
panjang unit bisnis dan juga strategi untuk mencapai
tujuan-tujuan tersebut.
3. Merencanakan, menetapkan sasaran dan
menyelaraskan berbagai inisiatif strategis
Balanced Scorecard akan memberi dampak
terbesar ketika dimanfaatkan untuk mendorong
terjadinya perubahan perusahaan. Untuk itu para
eksekutif senior harus menentukan sasaran bagi
berbagai ukuran scorecard untuk tiga atau lima
tahunan, yang jika berhasil dicapai, akan mengubah
perusahaan. Sasaran-sasaran tersebut harus
mencerminkan adanya perubahan dalam kinerja unit
bisnis. Jika unit bisnis tersebut adalah perusahaan
publik, maka pencapaian sasaran harus menghasilkan
harga saham yang meningkat dua kali lipat atau lebih.
Sedang sasaran keuangan antara lain pelipatgandaan
tingkat pengembalian investasi modal atau
peningkatan penjualan sebesar 150% selama lima
tahun berikutnya.
Untuk mencapai tujuan finansial yang
ambisius seperti itu, para manajer harus
mengidentifikasi rentang sasaran pelanggan, proses
bisnis internal, tujuan pembelajaran dan pertumbuhan.
Sasaran-sasaran ini dapat berasal dari berbagai
sumber. Sasaran ukuran pelanggan seharusnya berasal
dari upaya untuk memenuhi atau melampaui
ekspektasi pelanggan. Benchmarking dapat dipakai
agar praktek ternaik yang ada dapat disertakan untuk
memeriksa apakah sasaran-sasaran yang diusulkan
secara internal mampu membuat unit bisnis memenuhi
berbagai ukuran strategi yang telah ditetapkan.
4. Meningkatkan umpan balik dan pembelajaran
strategis.
Proses manajemen yang terakhir menyertakan
Balanced Scorecard dalam suatu kerangka
pembelajaran strategi. Proses ini adalah yang paling
inovatif dan merupakan aspek yang paling penting
dari seluruh proses manajemen scorecard. Proses ini
memberikan kapabilitas bagi pembelajaran
perusahaan pada tingkat eksekutif. Balanced
Scorecard memungkinkan manajer memantau dan
menyesuaikan pelaksanaan strategi, dan, jika perlu
membuat perubahan-perubahan mendasar terhadap
strategi itu sendiri. Proses pembelajaran strategis
mendorong timbulnya proses penetapan visi dan
strategi baru di mana tujuan dalam berbagai perspektif
di tinjau ulang, diperbaharui dan diganti agar sesuai
dengan pandangan terkini mengenai hasil strategis dan
pendorong kinerja yang dibutuhkan untuk periode
mendatang. (Kaplan & Norton, 2000 : 13)
Memperjelas dan
Menerjemahkan
Visi dan Strategi
BALANCED
SCORECARD
Mengkomunikasikan
Dan
Menghubungkan
Umpan Balik
Dan
Pembelajaran
Strategis
Merencanakan
Dan
Menetapkan
Sasaran
Gambar 2. Balanced Scorecard Sebagai Kerangka Kerja
Tindakan Strategis
Sumber: Kaplan & Norton (2000 : 11)
EMPAT PERSPEKTIF BALANCE SCORECARD
1. Perspektif Finansial
Balanced Scorecard tetap menggunakan
perpektif finansial, karena ukuran finansial sangat
penting dalam memberikan ringkasan konsekwensi
tindakan ekonomis yang sudah diambil. Ukuran
kinerja finansial memberikan petunjuk apakah strategi
perusahaan, implementasi dan pelaksanaannya
memberikan kontribusi atau tidak kepada peningkatan
laba perusahaan. Tujan finansial biasanya
berhubungan dengan profitabilitas, yang diukur
misalnya oleh laba operasi, return on capital
employed (ROCE), nilai tambah ekonomis (economic
value added). Tujuan finansial lainnya, mungkin
berupa pertumbuhan penjualan yang cepat atau
terciptanya arus kas (Grant, 1997 : 33).
Tujuan finasial mungkin sangat berbeda untuk
setiap tahap siklus hidup bisnis. Teori strategi bisnis
menawarkan beberapa strategi yang berbeda yang
dapat diikuti oleh unit bisnis, dari pertumbuhan pasar
yang agresif sampai kepada konsolidasi bisnis, keluar
dan likwidasi. Pada umumnya ada tiga tahap:
Friska Sipayung Balanced Scorecard: Pengukuran Kinerja Perusahaan…
11
• Growth
Perusahaan yang sedang bertumbuh berada
pada awal siklus hidup perusahaan. Mereka
menghasilkan produk dan jasa yang memiliki potensi
pertumbuhan. Untuk memanfaatkan potensi ini,
mereka harus melibatkan sumber daya yang cukup
banyak untuk mengembangkan dan meningkatkan
berbagai produk dan jasa baru; membangun dan
memperluas fasilitas produksi; membangun
kemampuan operasi, menanamkan investasi dalam
sistem, infrastruktur dan jaringan distribusi yang akan
mendukung terciptanya hubungan global; dan
memelihara serta mengembangkan hubungan yang
erat dengan para pelanggan. Perusahaan dalam tahap
pertumbuhan mungkin beroperasi dengan arus kas
yang negatif dan pengembalian modal investasi yang
rendah. Tujuan finansial keseluruhan perusahaan
dalam tahap pertumbuhan adalah persentase tingkat
pertumbuhan pendapatan, dan tingkat pertumbuhan
penjualan di berbagai pasar sasaran, kelompok
pelanggan dan wilayah.
• Sustain
Sebagian besar unit bisnis dalam sebuah
perusahaan mungkin berada pada tahap bertahan,
situasi dimana unit bisnis masih memiliki daya tarik
bagi penanaman investasi dan investasi ulang, tetapi
diharapkan mampu menghasilkan pengembalian
modal yang cukup tinggi. Unit bisnis seperti ini
diharapkan mampu mempertahankan pangsa pasar
yang dimiliki dan secara bertahap tumbuh tahun demi
tahun. Tujuan finansial di tahap bertahan biasanya
terkait dengan profitabilitas, dinyatakan dengan
memakai ukuran yang terkait dengan laba akuntansi
seperti laba operasi dan marjin kotor. Ukuran ini
menganggap investasi modal di dalam unit bisnis
sudah tetap (given/exogenous) dan meminta para
manajer untuk memaksimalkan pendapatan yang
dihasilkan dari investasi modal.
• Harvest
Sebagian unit bisnis akan mencapai tahap
kedewasaan dalam siklus hidupnya, tahap dimana
perusahaan ingin “menuai” investasi yang dibuat pada
dua tahap sebelumnya. Bisnis tidak lagi membutuhkan
investasi yang besar, cukup untuk pemeliharaan
peralatan dan kapabilitas, bukan perluasan atau
pembangunan berbagai kapabilitas baru. Setiap
proyek investasi harus memiliki periode
pengembalian investasi yang definitif dan singkat.
Tujuan utamanya adalah memaksimalkan arus kas ke
korporasi. Tujuan finansial keseluruhan untuk bisnis
pada tahap menuai adalah arus kas operasi dan
penghematan berbagai kebutuhan modal kerja.
Dengan demikian, jelas bahwa tujuan
finansial di setiap tahap sangat berbeda. Tujuan
finansial di tahap pertumbuhan akan menekankan
pertumbuhan penjualan di pasar baru, kepada
pelanggan baru dan dihasilkan dari produk dan jasa
baru, mempertahankan tingkat pengeluaran yang
memadai untuk pengembangan produk dan proses,
sistem, kapabilitas pekerja, penetapan saluran
pemasaran, penjualan dan distribusi baru. Tujuan
finansial di tahap bertahan akan bertumpu pada
ukuran finansial tradisional, seperti ROCE, laba
operasi dan marjin kotor. Semua ukuran ini
menyatakan tujuan finansial klasik, menghasilkan
tingkat pengembalian modal investasi yang tinggi.
Dan tujuan finansial perusahaan di tahap menuai akan
menekankan pada arus kas. Setiap investasi harus
memberikan pengembalian kas yang segera dan pasti.
Pengembangan sebuah Balanced Scorecard
oleh karenanya harus dimulai dengan suatu dialog
aktif antara CEO unit bisnis dengan CFO korporasi
menyangkut berbagai kategori dan tujuan finansial
spesifik unit bisnis.
2. Perspektif Pelanggan
Dalam perspektif pelanggan Balanced
Scorecard, para manajer mengidentifikasi pelanggan
dan segmen pasar dimana unit bisnis tersebut akan
bersaing dan berbagai ukuran kinerja unit bisnis di
dalam segmen sasaran. Perspektif ini biasanya terdiri
atas beberapa ukuran utama atau ukuran generik
keberhasilan perusahaan dari strategi yang
dirumuskan dan dilaksanakan dengan baik. Ukuran
utama tersebut terdiri atas kepuasan pelanggan, retensi
pelanggan, akuisisi pelanggan baru, profitabilitas
pelanggan dan pangsa pasar di segmen sasaran.
Semua ukuran tersebut dapat dikelompokkan dalam
suatu rantai hubungan sebab - akibat (gambar 3).
Selain itu perspektif pelanggan juga mencakup
berbagai ukuran tertentu yang menjelaskan tentang
preposisi nilai yang akan diberikan perusahaan kepada
pelanggan segmen pasar sasaran. Faktor pendorong
keberhasilan pelanggan inti di segmen pasar tertentu
merupakan faktor yang penting, yang dapat
mempengaruhi keputusan pelanggan untuk berpindah
atau tetap loyal kepada pemasoknya. Perspektif
pelanggan memungkinkan para manajer unit bisnis
mengartikulasikan strategi yang berorientasi kepada
pelanggan dan pasar yang akan memberikan
keuntungan finansial masa depan yang lebih besar.
Jurnal Manajemen Bisnis, Volume 2, Nomor 1, Januari 2009: 7 – 14
12
AKUISISI
PELANGGAN
PROFITABILITAS
PELANGGAN
KEPUASAN
PELANGGAN
RETENSI
PELANGGAN
PANGSA
PASAR
Gambar 3. Perspektif Pelanggan
Sumber: Kaplan & Norton (2000 : 60)
3. Perspektif Proses Bisnis Internal
Dalam perspektif proses bisnis internal, para
eksekutif mengidentifikasi berbagai proses internal
penting yang harus dikuasai dengan baik oleh
perusahaan. Proses ini memungkinkan unit bisnis
untuk; memberikan proposisi nilai yang akan menarik
perhatian dan mempertahankan pelanggan dalam
segmen pasar sasaran, dan memenuhi harapan
keuntungan finansial yang tinggi para pemegang
saham. Ukuran proses bisnis internal berfokus kepada
berbagai proses internal yang akan berdampak besar
kepada kepuasan pelanggan dan pencapaian tujuan
finansial perusahaan.
Kebutuhan pelanggan
Di identifikasi
Kenali pasar
Bangun produk/jasa
Ciptakan produk/jasa
Luncurkan produk/jasa
Layani pelanggan
Kebutuhan pelanggan
terpuaskan
Proses
inovasi
Proses
operasi
Proses
Layanan
Purna
jual
Gambar 4. Perspektif Proses Bisnis Internal-Model Rantai
Nilai Generik
Sumber: Kaplan & Norton (2000 : 84)
Dalam proses inovasi, unit bisnis meneliti
kebutuhan pelanggan yang sedang berkembang atau
yang masih tersembunyi, dan kemudian menciptakan
produk atau jasa yang akan memenuhi kebutuhan
tersebut. Proses operasi, langkah utama kedua dalam
rantai nilai internal generik, adalah tempat di mana
produk dan jasa diproduksi dan disampaikan kepada
pelanggan. Proses ini secara historis telah menjadi
fokus sebagian besar sistem pengukuran kinerja
perusahaan. Langkah utama ketiga dalam rantai nilai
internal adalah layanan kepada pelanggan setelah
penjualan atau penyampaian produk dan jasa.
4. Perspektif Pembelajaran dan Pertumbuhan
Perspektif ke empat dari Balanced Scorecard
yaitu pembelajaran dan pertumbuhan, mengidentifikasi
infrasrutur yang harus dibangun perusahaan dalam
menciptakan pertumbuhan dan peningkatan kinerja
jangka panjang.Tiga sumber utama pembelajaran dan
pertumbuhan perusahaan berasal dari manusia, sistem
dan prosedur perusahaan. Tujuan finansial, pelanggan
dan proses bisnis internal di Balanced Scorecard
biasanya akan memperlihatkan adanya kesenjangan
antara kapabilitas sumber daya manusia, sistem dan
prosedur saat ini dengan apa yang dibutuhkan untuk
menghasilkan kinerja yang penuh dengan terobosan.
Untuk menutup kesenjangan ini, perusahaan harus
melakukan investasi dengan melatih ulang para
pekerja, meningkatkan teknologi dan sistem informasi
serta menyelaraskan berbagai prosedur dan kegiatan
sehari-hari perusahaan.
Dalam balanced scorecard ada tiga kategori
utama untuk perspektif pembelajaran dan partumbuhan:
�� Kapabilitas pekerja
�� Kapabilitas sistem informasi
�� Motivasi, pemberdayaan dan keselarasan.
Ukuran inti
HASIL
Retensi
Pekerja
Produktivitas
pekerja
Kepuasan
Pekerja
Iklim
Untuk
Bertindak
Kompetensi
Staf
Infrastruktur
Teknologi
Faktor yg
mempengaruhi
Gambar 5. Kerangka Kerja Ukuran Pembelajaran dan
Pertumbuhan
Sumber: Kaplan & Norton (2000 : 112)
Friska Sipayung Balanced Scorecard: Pengukuran Kinerja Perusahaan…
13
PENUTUP
Keberhasilan perusahaan abad informasi akan
ditentukan oleh bagaimana investasi dan pengelolaan
aktiva intelektual dilaksanakan. Spesialisasi
fungsional harus diintegrasikan ke dalam proses bisnis
berorientasi pelanggan. Produksi massal dan
penyediaan jasa produk dan jasa standar harus
digantikan oleh penciptaan produk dan jasa inovatif
yang fleksibel, responsif dan bermutu tinggi yang
dapat disesuaikan dengan kebutuhan setiap segmen
pelanggan sasaran. Inovasi dan peningkatan produk,
layanan dan proses akan dihasilkan oleh parta pekerja
yang mendapatkan pelatihan ulang, teknologi
informasi yang superior, dan berbagai prosedur
perusahaan yang selaras.
Keberhasilan atau kegagalan perusahaan tidak
dapat dimotivasi atau di ukur dalam jangka pendek
oleh model akuntansi keuangan tradisional. Model
finansial tersebut, pada umumnya mengukur peristiwa
masa lalu, bukan investasi yang ditanamkam dalam
berbagai kapabilitas yang menghasilkan nilai masa
depan.
Oleh karena itu perusahaan dapat
menggunakan Balanced Scorecard, suatu kerangka
kerja untuk mengintegrasikan berbagai ukuran yang
diturunkan dari strategi perusahaan. Selain ukuran
kinerja finansial masa lalu, balanced scorecard juga
memperkenalkan pendorong kinerja finansial masa
depan. Pendorong kinerja, yang meliputi perspektif
pelanggan, proses bisnis internal, dan pembelajaran
serta pertumbuhan, diturunkan dari proses
penerjemahan strategi perusahaan yang dilaksanakan
secara eksplisit dan ketat ke dalam berbagai tujuan
dan ukuran yang nyata.
Tujuan finansial menggambarkan tujuan
jangka panjang perusahaan, yaitu pengembalian
modal investasi yang tinggi dari setiap unit bisnis.
Penerapan Balanced Scorecard membantu tercapainya
tujuan finansial ini. Balanced Scorecard dapat
membuat tujuan finansial menjadi eksplisit, dan dapat
disesuaikan untuk setiap unit bisnis dalam berbagai
tahap pertumbuhan dan siklus yang berbeda. Dalam
perspektif finansial, scorecard memungkinkan para
eksekutif setiap unit bisnis untuk menetapkan bukan
hanya ukuran yang mengevaluasi keberhasilan jangka
panjang perusahaan, tetapi juga berbagai variabel
yang dianggap paling penting untuk menciptakan dan
mendorong tercapainya tujuan jangka panjang. Semua
tujuan dan ukuran dalam perspektif lain harus saling
terkait dengan pencapaian berbagai tujuan di dalam
perspektif finansial.
Pada saat merumuskan perspektif pelanggan,
para manajer harus memiliki gagasan yang jelas
tentang segmen pelanggan dan segmen bisnis sasaran
dan memilih serangkaian pengukuran hasil utama,
yaitu pangsa pasar, retensi, akuisisi, kepuasan dan
profitabilitas, untuk segmen sasaran tersebut. Para
manajer juga harus mengenali apa yang dinilai tinggi
oleh para pelanggan segmen sasaran dan memilih
proposisi nilai apa yang akan diberikan.
Dalam perspektif proses bisnis internal, para
manajer mengidentifikasi berbagai proses penting
yang harus dikuasai oleh perusahaan dengan baik agar
mampu memenuhi tujuan para pemegang saham dan
segmen pelanggan sasaran. Sistem pengukuran kinerja
konvensional memusatkan perhatian hanya pada
pemantauan dan perbaikan biaya, mutu, dan ukuran
berdasarkan waktu proses bisnis perusahaan.
Sedangkan pendekatan Balanced Scorecard
memungkinkan tuntutan kinerja proses internal
ditentukan berdasarkan harapan pihak eksternal
tertentu. Balanced Scorecard mengikutsertakan proses
inovasi sebagai suatu komponen vital perspektif
proses bisnis internal, disamping proses operasi dan
proses layanan purna jual
Perspektif yang keempat adalah pembelajaran
dan pertumbuhan. Kemampuan untuk mencapai
sasaran-sasaran ambisius tujuan finansial, pelanggan,
dan proses bisnis internal bergantung kepada
kapabilitas perusahaan dalam pembelajaran dan
pertumbuhan. Tiga kelompok ukuran berdasarkan
pekerja yang utama yaitu, kepuasan, produktivitas,
dan retensi, memberi ukuran hasil dari investasi yang
ditanamkan atas para pekerja, sistem dan keselarasan
perusahaan.
Balanced Scorecard menutup lubang yang ada di
sebagian besar sistem manajemen, yaitu kurangnya
proses sistematis untuk melaksanakan dan
memperoleh umpan balik sebuah strategi. Proses
manajemen yang dibangun di seputar scorecard
memungkinkan adanya keselarasan dan pemusatan
perhatian kepada pelaksanaan strategi jangka panjang.
Bila digunakan secara tepat, Balanced Scorecard
merupakan dasar pengelolaan perusahaan di abad
informasi.
DAFTAR PUSTAKA
Daft, Richard L. (2002). Manajemen, Edisi Kelima
Jilid 1 dan 2, Penerbit Erlangga, Jakarta.
David, Fred. R (2005). Strategic Management,
Concepts and Cases, Pearson, Prentice Hall.
David, Fred. R, (2006). Strategic Management,
Manajemen Strategis, Salemba Empat,
Jakarta.
Grant, Robert M, (1997). Analisis Strategi
Kontemporer, Konsep, Teknik, Aplikasi,
Erlangga, Jakarta.
Jurnal Manajemen Bisnis, Volume 2, Nomor 1, Januari 2009: 7 – 14
14
Hitt, Michael.A, Ireland & Hoskisson, (2001)
Manajemen Strategis, Daya Saing dan
Globalisasi, Salemba Empat, Jakarta.
Jauch & Glueck, W (1999). Manajemen Strategis Dan
Kebijakan Perusahaan, Erlangga, Jakarta.
Kaplan R.S & Norton D.P, (2000). Balanced
Scorecard, Menerapkan Strategi Menjadi
Aksi, Erlangga, Jakarta.
Kuncoro, Mudrajad, 2006). Strategi, Bagaimana
Meraih Keunggulan Kompetitif, Erlangga,
Jakarta.
Pearce J.A & Robinson R.B, (2008). Strategic
Management, Formulasi, Implementasi dan
Pengendalian, Buku 1, Salemba Empat,
Jakarta.
Supriyono, (1998). Manajemen Strategi Dan
Kebijaksanaan Bisnis, BPFE, Yogyakarta.
Thomson, Strickland, Gamble (2007). Crafting and
executing Strategy, The Quest For
Competitive Advantage, Concepts & Cases,
Mc. Graw Hill, Irwin.
William, Chuck (2001). Manajemen, Penerbit
Salemba Empat, Jakarta.

Sabtu, 14 Mei 2011

JURNAL MANAJEMEN BISNIS
Volume 1, Nomor 2 Mei 2008
ISSN: 1978−8339
3
DAFTAR ISI ISSN: 1978−8339
JURNAL MANAJEMEN BISNIS
Halaman
Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Permintaan Kredit pada PT Bank
Tabungan Negara Cabang Medan
Arlina Nurbaity Lubis dan Ganjang Arihta Ginting ............................................................................. 42 – 47
Analisis Pengaruh Faktor-Faktor Ekuitas Merek Sepeda Motor Merek Honda terhadap
Keputusan Pembelian (Studi Kasus pada Universitas Sumatera Utara)
Fadli dan Inneke Qamariah.................................................................................................................. 48 – 58
Pengaruh Sosiodemografi dan Karakteristik Pekerjaan terhadap Keinginan Pindah Kerja
Bidan di Kabupaten Serdang Bedagai
Muhammad Surya Desa, Endang Sulistya Rini, dan Syarifah.............................................................. 59 – 68
Tantangan bagi Kepemimpinan Lintas Budaya
Prihatin Lumbanraja............................................................................................................................ 69 – 77
Pengaruh Kualitas Pelayanan terhadap Brand Image pada Unit Rawat Jalan Poliklinik
Penyakit dalam RSU Dr. Pirngadi di Medan
Nisrul Irawati dan Rina Primadha ....................................................................................................... 78 – 88
ii
42
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPUTUSAN
PERMINTAAN KREDIT PADA PT BANK TABUNGAN NEGARA
CABANG MEDAN
Arlina Nurbaity Lubis1 dan Ganjang Arihta Ginting2
1 Staf Pengajar FE-USU
2 Alumni FE-USU
Abstract
This research aim to know and analyze factor influence level of interest rate KPR and customer service
to demand decision of KPR at Bank Tabungan Negara, Co.Ltd Branch of Medan, and know factor having an
effect on most dominant to demand decision KPR at Bank Tabungan Negara, Co.Ltd Branch of Medan.
The research method applied is descriptive analytical method and multiple regression analytical method.
Sample applied in this research is client using product KPR at Bank Tabungan Negara, Co.Ltd Branch of Medan
are 73 by using purposive sampling.
The Result of this research indicates that independent variable applied that is factor of interest rate
credit and customer service simultaneously has significant influence to variable dependent that is demand
decision of KPR at Bank Tabungan Negara, Co.Ltd Branch of Medan. The Result of this also indicates that
customer service factor is which most dominant influences demand decision of KPR at Bank Tabungan Negara,
Co.Ltd Branch of Medan.
Keywords: demand decision of KPR, interest rate, and service
A. PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pembelian rumah bisa dilakukan dengan cara
tunai ataupun kredit. Seseorang dapat membeli rumah
secara tunai apabila orang tersebut memiliki uang
yang nilainya sama dengan harga rumah tersebut.
Namun, seiring dengan semakin sulitnya keadaan
ekonomi dan banyaknya tuntutan kebutuhan yang
harus dipenuhi oleh masyarakat maka pembelian
rumah secara tunai semakin sulit dilakukan, terutama
bagi masyarakat yang tingkat ekonominya menengah
ke bawah. Dengan demikian, pembelian rumah secara
kredit dikalangan masyarakat menjadi pilihan yang
sangat menarik.
Penyaluran kredit perbankan pada sektor
konsumsi mengalami peningkatan yang drastis sejak
Indonesia dilanda krisis ekonomi sepuluh tahun lalu.
Hal ini terjadi karena banyaknya perusahaanperusahaan
besar bangkrut sehingga sektor korporasi
sangat sedikit menyerap kredit dari bank. Bank-bank
kemudian semakin menyadari bahwa peluang di pasar
konsumsi semakin besar, dimana resiko yang dihadapi
relatif lebih kecil dibandingkan dengan kredit pada
pasar investasi.
Terdapat beberapa jenis sektor konsumsi yang
dibiayai dengan kredit oleh bank, salah satunya adalah
sektor perumahan melalui kredit pemilikan rumah
(KPR). Peningkatan pemberian KPR oleh bank-bank
disebabkan masih banyaknya masyarakat yang
membutuhkan rumah. Pada sisi lain, sebagian
masyarakat tidak mampu membeli rumah secara tunai,
sehingga ini menjadi peluang bagi bank-bank untuk
memasarkan KPR sebanyak-banyaknya.
Strategi untuk memenangkan persaingan
dalam bisnis KPR adalah suku bunga dan pelayanan
yang kompetitif (www.kompas.com, April 2008).
Suku bunga KPR yang tinggi dapat menyebabkan
ekspansi KPR menjadi turun. Pada sisi lain, Bank
yang mampu memberikan pelayanan yang
memuaskan, pasti dapat menarik banyak debitur
sehingga mampu tumbuh dan berkembang.
Pemberian kredit perbankan ke KPR
berkembang cepat seiring terjadinya penurunan suku
bunga perbankan selama tahun 2007. Statistik
Perbankan Indonesia (SPI) mencatat jumlah kredit
perbankan yang disalurkan ke KPR meningkat sebesar
Rp 15,50 triliun yaitu 60,50 triliun pada tahun 2006
dan 76 triliun pada bulan Agustus 2007 (Info Bank,
Edisi Januari 2008). Pertumbuhan KPR juga
diprediksi akan naik 10% sampai 15% dari rata-rata
pertumbuhan KPR pada tahun 2007
(www.kompas.com, April 2008).
Pada Tabel 1 dapat dilihat 10 peringkat bankbank
yang memiliki jumlah outstanding KPR terbesar
di Indonesia. Bank yang paling menguasai pangsa
pasar dalam memberikan KPR kepada masyarakat
adalah PT Bank Tabungan Negara (Persero). Tercatat
Bank BTN memiliki pangsa pasar sebesar 21,37 %
dan nilai ini sangat jauh di atas bank-bank lainnya.
Jurnal Manajemen Bisnis, Volume 1, Nomor 2, Mei 2008: 42 - 47
43
Tabel 1. Outstanding Kredit Pemilikan Rumah (KPR)
Beberapa Bank Besar per September 2007
No. Nama Bank Nilai
(Rp
Triliun)
Pangsa
Pasar
(%)
Pyoy
(%)
1. Bank BTN 18.924 21.37 35.75
2. Bank Niaga 8.530 9.63 20.51
3. Bank Central Asia 7.208 8.14 78.59
4. Bank Panin 4.634 5.23 63.08
5. Bank Mandiri 4.501 5.08 25.94
6. Bank Negara
Indonesia
4.050 4.57 70.74
7. Bank NISP 3.503 3.96 35.34
No. Nama Bank Nilai
(Rp
Triliun)
Pangsa
Pasar
(%)
Pyoy
(%)
8. Bank Internasional
Indonesia
3.246 3.66 12.20
9. UOB Buana 2.571 2.90 38.66
10. Bank Danamon 1.350 1.52 20.17
Keterangan:
Pyoy: pertumbuhan year on year
Sumber: Biro Riset Infobank (birI), januari 2008
Fokus bisnis Bank BTN dalam bidang KPR
sebenarnya banyak dipengaruhi oleh faktor historis,
dimana pada awalnya Bank BTN oleh Pemerintah
ditugaskan untuk menjadi satu-satunya bank yang
menangani penyaluran KPR kepada golongan
masyarakat menengah ke bawah, yaitu melalui produk
KPR Rumah Sederhana (KPR RS) dan KPR Rumah
Sangat Sederhana (KPR RSS). Dalam mengemban
tugas ini, sebagai sumber pendanaan maka Bank BTN
menggunakan dana subsidi yang bersumber dari
Kredit Likuiditas Bank Indonesia (KLBI) dan
Rekening Dana Investasi (RDI) dari Departemen
Keuangan.
Subsidi dari KLBI dan RDI untuk pemberian
KPR semakin dibatasi seiring dengan krisis ekonomi
dan perubahan kebijakan ekonomi yang diprogramkan
oleh Dana Moneter Internasional (IMF), sehingga
untuk mendukung bisnisnya dalam penyaluran KPR,
maka Bank BTN harus menngandalkan sumber
pendanaan lainnya, yaitu dari dana masyarakat.
Bank BTN juga melakukan pergeseran fokus
bisnis dalam pemberian KPR, yaitu dari KPR RS dan
KPR RSS bergeser ke KPR Komersial yang berbunga
lebih tinggi. Hal ini berkaitan dengan pergeseran
sumber pendanaan, yaitu dari dana subsidi kepada
dana komersial. Dalam hal ini, salah satu produk
unggulan KPR komersial Bank BTN adalah Kredit
Griya Utama 1(KGU 1).
KGU 1 merupakan salah satu produk KPR
Bank BTN yang memiliki nilai KPR sebesar seratus
juta hingga seratus lima puluh juta rupiah dengan
tingkat suku bunga sebesar 10,75%.
Pelayanan juga menjadi salah satu
keunggulan dari Bank BTN, karena Bank BTN adalah
bank yang pertama kali dan dikhususkan menangani
bisnis KPR di Indonesia selama kurang lebih 34
tahun.
Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Mengetahui dan menganalisis pengaruh faktor
tingkat suku bunga, dan pelayanan nasabah dalam
mempengaruhi dan menentukan keputusan
permintaan KPR pada PT Bank Tabungan Negara
Cabang medan.
2. Manfaat Penelitian
a. Bagi Peneliti, memperluas wawasan
pemikiran peneliti dalam cara berpikir ilmiah
pada bidang pemasaran pada perbankan
khususnya pemasaran KPR.
b. Bagi PT Bank Tabungan Negara Cabang
Medan, untuk menambah wawasan dan
menjadi dasar pertimbangan bagi pimpinan
dalam mengambil kebijaksanaan KPR.
c. Bagi pihak lain, sebagai refrensi yang
bermanfaat untuk mengadakan penelitian
lanjutan yang lebih mendalam pada masa
yang akan datang.
B. METODE PENELITIAN
1. Batasan Operasional Variabel
Penelitian yang dilakukan peneliti terbatas
pada faktor-faktor sebagai berikut:
a. Tingkat suku bunga (Interest Rate)
b. Pelayanan Nasabah (Customer Service)
Penelitian yang dilakukan peneliti juga
terbatas pada KPR GRIYA UTAMA 1 yang
disalurkan oleh PT Bank Tabungan Negara Cabang
Medan.
2. Definisi Operasional Variabel
a. Tingkat suku bunga KPR, yaitu harga jual yang
harus dibayar oleh peminjam (debitur) kepada
bank yang didasarkan pada suatu perjanjian
membuka KPR.
b. Pelayanan Nasabah (Customer Service), yaitu
pendapat debitur mengenai kepuasan yang
diterima debitur atas pemenuhan kebutuhan yang
diberikan bank sejak permohonan KPR sampai
dengan berakhirnya KPR.
3. Identifikasi Variabel
Penelitian ini memiliki 3 (tiga) variabel.
Ketiga variabel tersebut dikelompokkan menjadi dua
Arlina Nurbaity Lubis dan Ganjang Arihta Ginting Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keputusan…
44
bagian yaitu variabel terikat (dependent variable,
) i Y dan variabel bebas (independent variable, ) i X .
a. Bagian pertama yaitu variabel terikat (dependent
variable, Yi) adalah Keputusan Permintaan KPR.
b. Bagian kedua yang merupakan variabel bebas
(independent variable, Xi) meliputi:
1) Tingkat Suku bunga
2) Pelayanan Nasabah
4. Tempat dan Waktu Penelitian
Peneliti melakukan penelitian pada PT Bank
Tabungan Negara Cabang Medan yang berlokasi di
Jalan Pemuda No.10-A Medan. Penelitian ini
dilakukan mulai bulan April 2008 sampai dengan
Agustus 2008.
5. Populasi dan Sampel
a. Populasi
Populasi pada penelitian ini adalah debitur
pada PT Bank Tabungan Negara Cabang
Medan yang memperoleh produk KPR
GRIYA UTAMA 1 dalam periode 31
desember 2007 yang berjumlah 734 debitur.
b. Sampel
Sampel diambil dengan metode purposive
sampling yaitu 10% dari populasi. Menurut
Gay dalam Umar (2000:79) jumlah ini
dianggap sudah representatif untuk mewakili
populasi, sehingga sampel yang digunakan
peneliti adalah sebanyak 73 debitur.
6. Jenis Data
Data yang digunakan sebagai informasi untuk
melakukan analisis dan evaluasi adalah:
a. Data Primer
Data primer yang dipakai dalam penelitian ini
berasal dari kuesioner.
b. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari
hasil publikasi media massa dan berbagai
tulisan yang diperoleh dari PT Bank
Tabungan Negara Cabang Medan seperti:
buku, majalah, surat kabar, literatur, ataupun
internet untuk mendukung penelitian ini.
7. Teknik Pengumpulan Data
a. Wawancara (Interview)
Wawancara dilakukan dengan bagian
perkreditan dan petugas lapangan PT Bank
Tabungan Negara Cabang Medan.
b. Kuesioner
Teknik ini dilakukan dengan cara mengajukan
pertanyaan melalui daftar pertanyaan yang
diisi oleh debitur yang memperoleh produk
KPR GRIYA UTAMA 1 pada PT Bank
Tabungan Negara Cabang Medan.
8. Uji Validitas dan Reliabilitas
Instrumen yang valid berarti alat ukur yang
digunakan untuk mendapatkan data (mengukur) itu
valid (Sugiyono, 2005:109). Pengujian validitas
menggunakan pendekatan koefisien korelasi yaitu
dengan cara mengkorelasikan antara skor butir
pertanyaan dengan skor totalnya, dan bila nilai
korelasinya positif dan r hitung ≥ 0,3 maka butir
pertanyaan tersebut dinyatakan valid.
Instrumen yang reliabel adalah instrumen
yang bila digunakan beberapa kali untuk mengukur
obyek yang sama akan menghasilkan data yang sama,
dan bila koefisien korelasi (r) positif dan signifikan,
maka instrumen tersebut sudah dinyatakan reliabel.
9. Metode Analisis Data
1. Metode Analisis Regresi Berganda
Analisis Regresi Berganda digunakan untuk
mengadakan prediksi nilai dari variabel terikat
yaitu keputusan permintaan KPR pada PT
Bank Tabungan Negara Cabang Medan (Y)
dengan ikut memperhitungkan nilai-nilai
variabel bebas, yaitu Tingkat Suku Bunga
(Interest Rate) ( 1 X ), dan Pelayanan Nasabah
(Customer Service) ( 2 X ) sehingga dapat
diketahui pengaruh positif atau negatif dari
faktor-faktor Tingkat Suku Bunga, dan
Pelayanan Nasabah terhadap Keputusan
Permintaan KPR pada PT Bank Tabungan
Negara Cabang Medan. Analisis regresi
Linear berganda dalam penelitian ini
menggunakan bantuan aplikasi software SPSS
(Statistic Product And Service Solution) 15.0
For Windows. Adapun model persamaan yang
digunakan (Sugiyono, 2005:211), adalah:
Y = a + b x + b x + e 1 1 2 2
Di mana:
Y = Keputusan Permintaan KPR
a = Konstanta
1 b = Koefisien 1 x
1 x = Tingkat suku bunga
2 b = Koefisien 2 x
2 x = Pelayanan Nasabah
e = Standar error
- Pengujian Hipotesis
1) Uji-F (uji secara serentak)
Uji-F pada dasarnya menunjukkan apakah
semua variabel bebas yang dimasukkan dalam
model mempunyai pengaruh secara bersamasama
terhadap variabel terikat.
Jurnal Manajemen Bisnis, Volume 1, Nomor 2, Mei 2008: 42 - 47
45
H0 : b1 = b2 = 0, artinya secara bersama-sama
tidak terdapat pengaruh yang signifikan dari
variabel bebas (X1, X2) yaitu berupa variabel
tingkat suku bunga dan pelayanan nasabah
terhadap Keputusan Permintaan KPR (Y).
Ha : b1 ≠ b2 ≠ 0, artinya secara bersama-sama
terdapat pengaruh yang signifikan dari
variabel bebas (X1, X2) yaitu berupa variabel
tingkat suku bunga dan pelayanan nasabah
terhadap Keputusan Permintaan KPR yaitu
variabel terikat (Y).
Kriteria Pengambilan Keputusan:
H0 diterima jika Fhitung < Ftabel pada α = 5 % Ha diterima jika Fhitung > Ftabel pada α = 5 %,
atau nilai signifikansi < 0,05 C. ANALISIS DAN PEMBAHASAN 1. Determinasi (R2) Determinasi (R2) digunakan untuk melihat seberapa besar pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat. Determinan (R2) mendekati satu (1) berarti pengaruh variabel bebas besar terhadap variabel terikat. R2 mendekati nol (0) berarti pengaruh varibel bebas terhadap variabel terikat adalah kecil. Tabel 2. Summary Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 .815(a) .664 .654 .86582 a Predictors: (Constant), pelayanan, sukubunga Sumber: Hasil pengolahan data primer (kuesioner, SPSS versi 15.0) 2008 Tabel 2 menunjukkan bahwa angka R2 atau determinan sebesar 65,4% dan sisanya 34,6% dijelaskan oleh faktor lain yang tidak dimasukkan ataupun diuji dalam penelitian ini. Hasil Penelitian ini juga menunjukkan bahwa variabel bebas yang terdiri dari tingkat suku bunga dan pelayanan mampu mempengaruhi keputusan permintaan kredit, atau dengan kata lain keputusan permintaan kredit dipengaruhi oleh tingkat suku bunga dan pelayanan. 2. Uji F Serentak Uji F untuk menunjukkan apakah semua variabel bebas yang dimasukkan pada model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel terikat. Langkah-langkah pengujiannya adalah sebagai berikut: a) Menentukan model hipotesis Ho dan Ha. b) Mencari nilai Ftabel dengan cara menentukan tingkat kesalahan (α) dan menentukan derajat kebebasan. c) Menentukan kriteria pengambilan keputusan. d) Mencari nilai Fhitung dengan menggunakan bantuan aplikasi SPSS 15.0 e) Kesimpulan. Hasil pengujian: a) Model Hipotesis yang digunakan adalah Ho : b1 = b2 = 0 Artinya variabel bebas suku bunga (X1) dan pelayanan (X2) secara bersama-sama tidak berpengaruh signifikan terhadap Keputusan Permintaan KPR (Y) pada PT. Bank Tabungan Negara Cabang Medan. Ha : b1 ≠ b2 ≠ 0 Artinya variabel bebas suku bunga (X1) dan pelayanan (X2) secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap Keputusan Permintaan KPR (Y) pada PT. Bank Tabungan Negara Cabang Medan. b) Ftabel dapat dilihat pada α = 0.05 Dengan derajat pembilang = k – 1 = 3 – 1 = 2 Derajat penyebut = n – k = 73 – 3 = 70, Ftabel 0,05 (2,70) = 3,13 c) Mencari nilai Ftabel dengan menggunakan tabel ANOVA dari hasil pengolahan data SPSS Versi 15.0. Tabel 3. ANOVA(b) Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig. 1 Regression 103.690 2 51.845 69.160 .000(a) Residual 52.475 70 .750 Total 156.164 72 a Predictors: (Constant), pelayanan, sukubunga b Dependent Variable: permintaanKPR Sumber: Hasil pengolahan data primer (kuesioner, SPSS versi 15.0) 2008 d) Kriteria Pengambilan Keputusan Ho diterima jika Fhitung < Ftabel pada α = 5% Ha diterima jika Fhitung > Ftabel pada α = 5%, atau
nilai signifikansi < 0,05 e) Dari tabel ANOVA diperoleh Fhitung sebesar 69,160 Tabel 4. Reliability Statistic Fhitung Ftabel 69,160 3,13 Sumber: Hasil pengolahan data primer (kuesioner, SPSS versi 15.0) 2008 Arlina Nurbaity Lubis dan Ganjang Arihta Ginting Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keputusan… 46 Bedasarkan Tabel 12 nilai Fhitung > Ftabel pada
α = 5% dengan demikian maka Ha diterima. Hal ini
menunjukkan bahwa pengaruh variabel bebas (suku
bunga dan pelayanan) secara serempak adalah
signifikan terhadap keputusan permintaan KPR (Y)
pada PT. Bank Tabungan Negara Cabang Medan.
3. Analisis Regresi Berganda
Analisis regresi berganda digunakan, bila
peneliti bermaksud meramalkan bagaimana keadaan
(naik turunnya) variabel dependen (kriterium), bila
dua atau lebih variabel independen sebagai faktor
prediktor dimanipulasi (dinaik turunkan nilainya)
(Sugiyono, 2005: 210). Analisis regresi berganda
dalam penelitian ini menggunakan program SPSS
versi 15.0 dengan metode enter dan dapat dilihat pada
tabel berikut:
Tabel 5. Coefficients
a
Unstandardized
Coefficients
Standardized
Coefficients
Model
B Std.
Error
Beta
T Sig.
1. (Constant)
suku bunga
pelayanan
1.289
.019
.366
1.304
.084
.044
.022
.800
.988
.228
8.322
.326
.821
.000
a. Dependent Variable: Permintaan KPR (Y)
Sumber: Hasil pengolahan data primer (kuesioner, SPSS versi
15.0) 2008
Berdasarkan hasil pengolahan regresi ganda
yang ditunjukkan dalam Tabel 5 maka diperoleh hasil
regresi linear ganda sebagai berikut:
Y = 1.289 + 0.019X1 + 0.366X 2 + ei
Interpretasi Model Linear Ganda:
Interpretasi dari hasil estimasi parameter dari
persamaan regresi ganda yang telah diperoleh, dapat
dibuat suatu interpretasi terhadap suatu model atau
hipotesis yang telah diambil pada metode penelitian
ini, yaitu:
a. Konstanta bernilai 1.289 artinya jika tidak ada
variabel bebas suku bunga (X1 ) dan pelayanan
(X 2 ) maka faktor keputusan permintaan KPR
pada PT. Bank Tabungan Negara Cabang Medan
adalah sebesar 1,289.
b. Variabel suku bunga bertanda positif terhadap
keputusan permintaan KPR (Y) pada PT. Bank
Tabungan Negara Cabang Medan dengan
koefisien regresi sebesar 0.019 artinya apabila
terjadi peningkatan variabel suku bunga setiap
satu satuan maka keputusan permintaan KPR (Y)
akan meningkat sebesar 0.019. Hal ini
menunjukkan bahwa faktor suku bunga
mempengaruhi keputusan permintaan kredit
nasabah. Hasil penelitian ini mendukung kajian
yang dilakukan oleh Banjanahor (2006) yang
membuktikan bahwa faktor tingkat suku bunga
mempengaruhi keputusan permintaan kredit
nasabah. Jika dikaitkan dengan bauran pemasaran
maka bunga bank adalah merupakan harga.
Kasmir (2003) menayatakan bahwa bunga bank
sebagai balasan jasa yang diberikan bank yang
berdasarkan prinsip konvensional kepada nasabah
yang membeli atau menjual produknya. Bunga
bagi Bank juga dapat diartikan sebagai harga yang
harus dibayar kepada nasabah (yang memiliki
simpanan) dan harga yang harus dibayar oleh
nasabah kepada Bank (nasabah yang memperoleh
pinjaman). Bagian Bunga pinjaman merupakan
harga jual dan bunga kredit merupakan contoh
harga jual. Hasil Penelitian ini membuktikan
bahwa harga jual dalam hal ini bunga pinjaman
ternyata berpengaruh terhadap keputusan nasabah
untuk melakukan kredit.
c. Variabel pelayanan bertanda positif terhadap
keputusan permintaan KPR (Y) pada PT. Bank
Tabungan Negara Cabang Medan dengan
koefisien regresi sebesar 0.366 artinya apabila
terjadi peningkatan variabel pelayanan setiap satu
satuan maka keputusan permintaan KPR (Y) akan
meningkat sebesar 0.366. Hasil Penelitian ini juga
membuktikan bahwa pelayanan yang berkualitas
mempengaruhi keputusan nasabah untuk
mengajukan kredit. Hasil penelitian ini
mendukung kajian yang dilakukan oleh
Banjarnahor (2006) yang juga membuktikan
bahwa pelayanan terhadap nasabah berpengaruh
terhadap keputusan permintaan kredit.
Sebagaimana diketahui bahwa perbankan adalah
industri yang bergerak dibidang jasa. Jasa ataupun
pelayanan tentu memiliki karakteristik yang
berbeda dengan barang/produk. Perbedaan
karakteristik dan sifat jasa ini mengharuskan
pemberi jasa lebih memperhatikan kualitas jasa
atauapun pelayanan yang mereka berikan.
Parasuraman et.al dalam Tjiptono (2005)
menyatakan kualitas jasa memiliki 10 dimensi
yaitu bukti fisik, reliabilitas, daya tanggap,
kompetensi, kesopanan, kredibilitas, keamanan,
akses, komunikasi dan kemampuan memahami
pelanggan. Hasil penelitian ini juga membuktikan
bahwa kesepuluh dimensi kualitas pelayanan ini
dapat digunakan dalam mengukur kualitas
pelayanan khsusnya bank. Dalam kenyataannnya,
bagaiamana menariknya produk dan harga yang
ditawarkan oleh suatu bank, tanpa adanya kualitas
pelayanan yang baik tidak akan mampu memikat
Jurnal Manajemen Bisnis, Volume 1, Nomor 2, Mei 2008: 42 - 47
47
nasabah untuk melakukan keputusan pembelian
yang dalam hal ini keputusan untuk mengajukan
kredit. Dengan kata lain bagi industri yang
bergerak dibidang jasa khususnya jasa keuangan
dalam hal ini perbankan selalu memberikan
pelayanan yang berkualitas yang secara langsung
dapat dinilai oleh nasabah. Karena bagaimanapun
kualitas pelayanan yang diberikan oleh sektor jasa
(perbankan) akan secara langsung dapat
dipersepsikan oleh pelanggan. Oleh karena itu
kualitas pelayanan tidak hanya diberikan oleh
departemen layanan pelanggan saja, tetapi juga
menjadi perhatian dan tanggung jawab semua
personel produksi/operasioanal bank.
D. KESIMPULAN
Tingkat suku bunga (X1) dan pelayanan (X2)
secara serempak memiliki pengaruh yang signifikan
terhadap keputusan permintaan KPR pada PT. Bank
Tabungan Negara Cabang Medan, sehingga hipotesis
pertama diterima.
DAFTAR PUSTAKA
Djohan, Warman. 2000.Kredit Bank (Alternatif
Pembiayaan dan Pengajuannya)Cetakan
Pertama, Jakarta. Penerbit PT. Mutiara
Sumber Widya.
Kasmir. 2005. Pemasaran Bank. Penerbit PT. Raja
Grafindo Persada, Jakarta.
Kotler, Philip. 2001. Prinsip-Prinsip Pemasaran.
Jilid I, Alih Bahasa: Damos Sihombing, Edisi
8. Penerbit Erlangga, Jakarta.
Kuncoro, Mudrajad. 2003. Metode Riset untuk
Bisnis dan Ekonomi. Penerbit Erlangga,
Jakarta.
Lupiyoadi, Rambat dan A, Hamdani. 2006.
Manajemen Pemasaran Jasa. Penerbit
Salemba Empat, Jakarta.
Setiadi, Nugroho. 2003. Perilaku Konsumen.
Penerbit Kencana, Jakarta.
Sinungan, Muchdarsyah. Mei 2000. Manajemen
Dana Bank. Edisi Kedua. Jakarta. Penerbit
Bumi Aksara, Jakarta.
Sugiyono, 2005. Metode Penelitian Bisnis. Penerbit
CV.Alfabeta, Bandung.
Tangkilisan, 2003. Local Government-Finance.
Penerbit Ypapi, Jakarta.
Tjiptono, Fandy. 2005. Pemasaran Jasa.
Banyumedia Publishing, Malang.
Umar, Husein. 2000. Riset Strategi Perusahaan. PT.
Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Undang-Undang Perbankan No. 10 tahun 1998
pasal 10 ayat 11.
Untung, Budi. 2005. Kredit Perbankan di
Indonesia. Edisi kedua. Penerbit ANDI,
Yogyakarta.
Banjarnahor. 2006. Analisis Faktor-faktor yang
mempengaruhi Keputusan Permintaan
Kredit pada PT Bank SUMUT Cabang
Tarutung
InfoBank. Edisi januari 2008.
www.kompas.com diakses pada tanggal 28 April 2008
pukul 19:00 wib.
Fadli dan Inneke Qamariah Analisis Pengaruh Faktor-Faktor Ekuitas Merek…
48
ANALISIS PENGARUH FAKTOR-FAKTOR EKUITAS MEREK SEPEDA
MOTOR MEREK HONDA TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN
(Studi Kasus pada Universitas Sumatera Utara)
Fadli dan Inneke Qamariah
Staf Pengajar FE-USU
Abstract
Marketing is already put an influence to all of our daily activities for individual or organization.
Succesful products or services in the market always had a powerful and dominant brand’s name.
he complication of this research is to knowing how is the effect of brand equity which consists of brand
awareness, perceived quality, brand association, and brand loyalty on buying decision in University of North
Sumatera. The Objective of this research is to to know and to analyze the effect of brand equity consisting of
brand awareness, perceived quality, brand association, and brand loyalty on buying decision in University of
North Sumatera. The research method used on this research is the quantitative research in which variables are
measured with Likert scale. The data collection technic of primary data is by distributing questionnaires,
supported by interview session. The direct approach of this research is by using case study which also supported
by surveys. Data processing is using the SPSS version 12,0 software with the descriptive analysis and
hypothesis tested by multiple regression analysis. The results of the research indicates that (1) as collectively,
there are significant effects of brand awareness, perceived quality, brand association, and brand loyalty on
buying decision in University of North Sumatera environment; (2) which also as partially, there are significant
effect of perceived quality, brand association, and brand loyalty on buying decision in University of North
Sumatera environment. Brand loyalty factor has the most dominant effect on buying decision in the University
of North Sumatera environment.
Keywords: brand equity, brand loyalty, and buying decision
PENDAHULUAN
Pemasaran pada dasarnya adalah membangun
merek di benak konsumen. Kekuatan merek terletak
pada kemampuannya untuk mempengaruhi perilaku
pembelian. Merek diyakini mempunyai kekuatan yang
besar untuk memikat orang untuk membeli produk
atau jasa yang diwakilinya. Perkembangan industri
sepeda motor di Indonesia dengan bermacam merek
yang digunakan oleh perusahaan produsennya juga
menjadikan isu merek ini menjadi sangat strategis
dikarenakan dapat menjadi sarana bagi perusahaan
untuk mengembangkan dan memelihara loyalitas
pelanggan. Merek yang kuat akan membangun
loyalitas, dan loyalitas akan mendorong bisnis
terulang kembali. Merek yang kuat juga akan
menghasilkan harga yang menarik dan menjadi
penghalang bagi masuknya pesaing. Menurut data
penjualan yang dikeluarkan oleh Asosiasi Industri
Sepeda Motor Indonesia (AISI) untuk kuartal keempat
2007, Honda membukukan penjualan terbanyak
dengan jumlah 2,135 juta unit yang disusul oleh
Yamaha dengan 1,923 juta unit, diikuti oleh Suzuki
dengan penjualan sejumlah 641.929 unit dan
Kawasaki dengan penjualan keseluruhan sejumlah
28.616 unit. Menurut data tersebut merek yang terlihat
dominan berada pada sepeda motor merek Honda
yang terus bersaing dengan rival klasiknya yaitu
Yamaha diikuti dengan Suzuki.
Melalui Tabel I.1 diketahui bahwa penjualan
sepeda motor Honda merek mengalami penurunan
dari tahun 2005 hingga tahun 2007. Sedangkan
penjualan sepeda motor merek Yamaha mengalami
peningkatan yang cukup signifikan dari tahun ke
tahunnya.
Dari Tabel I.2 dapat dilihat untuk tahun 2007,
total penjualan sepeda motor merek Honda bersaing
ketat dengan pesaingnya yaitu merek Yamaha. Secara
khusus pada bulan Maret dan Mei 2007, penjualan
sepeda motor merek Yamaha melampaui penjualan
sepeda motor merek Honda.
Data penjualan sepeda motor di Sumatera
Utara dapat dilihat pada Tabel I.3 dan di Kota Medan
pada khususnya yang ditunjukkan pada Tabel I.3 juga
menunjukkan bahwa sepeda motor merek Yamaha
merupakan yang paling besar peningkatan
penjualannya dibandingkan dengan sepeda motor
merek Honda dan Suzuki.
Jurnal Manajemen Bisnis, Volume 1, Nomor 2, Mei 2008: 48 - 58
49
Demi menjangkau pangsa pasar potensial
baru yaitu dari kaum wanita yang didasarkan pada
tingginya angka penjualan sepeda motor otomatis
merek Yamaha Mio dari Yamaha, PT. Astra Honda
Motor kemudian meluncurkan varian sepeda motor
Vario, dan Suzuki Indonesia mengeluarkan produk
Suzuki Spin-nya untuk menandingi dan meraih pangsa
pasar yang sangat potensial tersebut yang sebelumnya
belum pernah tersegmentasi dan diperhatikan secara
khusus oleh para produsen sepeda motor.
Tabel I.1. Data Penjualan Tiga Besar Produsen Sepeda Motor di Indonesia Tahun 2004 – 2007 (dalam ribuan unit)
Volume Penjualan
Merek
2004 2005 2006 2007
Honda 2.037.888 2.652.888 2.340.032 2.135.366
Yamaha 878.360 1.239.096 1.459.343 1.923.634
Suzuki 845.236 1.107.960 568.041 641.929
Sumber: www.wartaekonomi.com, 2007
Tabel I.2. Data Penjualan Sepeda Motor di Indonesia Tahun 2007 (dalam ribuan unit)
Periode/Merek Honda Yamaha Suzuki Kawasaki Kanzen Kymco Piaggio
Januari 153.806 133.199 52.309 4.204 2.115 1027 9
Februari 151.806 146.072 46.123 2.914 2.012 1141 5
Maret 151.127 160.235 47.175 3.441 2.318 1121 11
April 138.434 128.271 41.173 3.785 2.424 954 8
Mei 169.331 170.267 32.966 2.665 2.515 673 7
Juni 159.995 155.320 50.391 2.981 2.358 801 11
Juli 143.223 161.016 53.468 3.187 2.489 952 9
Agustus 187.544 168.708 65.334 3.959 2.516 1052 13
September 239.267 164.399 68.261 3.819 2.403 758 6
Oktober 215.477 167.841 64.371 3.471 2.667 686 12
November 212.093 170.119 61.694 3.657 2.519 724 7
Desember 213.263 198.187 58.664 3.314 2.463 767 9
Total 2.135.366 1.923.634 641.929 41.397 28.799 10.656 107
Sumber: Laporan Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia kuartal ke-4 tahun 2007
Tabel I.3. Data Penjualan Sepeda Motor di Sumatera Utara Tahun 2003 - 2007 (dalam ribuan unit)
Volume Penjualan
Merek
2003 2004 2005 2006 2007
Honda 80.736 118.467 135.458 142.014 149.312
Yamaha 21.101 31.192 46.391 72.546 115.852
Suzuki 11.666 19.055 39.047 41.574 40.497
Sumber: CV. Indako Trading Co., PT.Alfa Scorpii Medan, PT. Sunindo Varia Motor, 2008.
Tabel I.4. Data Penjualan Sepeda Motor di Kota Medan Tahun 2003 - 2007 (dalam ribuan unit)
Volume Penjualan
Merek
2003 2004 2005 2006 2007
Honda 29.518 38.345 39.313 42.057 43.891
Yamaha 8.997 11.059 14.439 20.997 25.296
Suzuki 4.202 6.038 8.868 9.038 12.522
Sumber: CV. Indako Trading Co., PT.Alfa Scorpii Medan, PT. Sunindo Varia Motor, 2008.
Fadli dan Inneke Qamariah Analisis Pengaruh Faktor-Faktor Ekuitas Merek…
50
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan
menganalisis dimensi ekuitas merek mana yang
berpengaruh lebih signifikan pada merek sepeda
motor Honda terhadap keputusan pembelian, dimana
keempat dimensi ekuitas merek tersebut terdiri dari
kesadaran merek, kesan kualitas, asosiasi merek, dan
loyalitas merek dan bagaimana pengaruh ekuitas
merek terhadap keputusan pembelian sepeda motor
merek Honda di lingkungan Universitas Sumatera
Utara.
Telaah Kepustakaan
Kajian literatur yang digunakan dengan
memfokuskan pada faktor-faktor ekuitas merek
terutama pada pemahaman pada kesadaran merek,
kesan kualitas, asosiasi merek, loyalitas merek. Dan
literatur yang berkaitan dengan keputusan pembelian.
Definisi Ekuitas Merek
Banyak literature tentang ekuitas merek.
Menurut Stanton dalam Rangkuti (2002) “Merek
adalah nama, istilah, simbol atau desain khusus atau
beberapa kombinasi unsur-unsur ini yang dirancang
untuk mengidentifikasikan barang atau jasa yang
ditawarkan oleh penjual”. Menurut Retnawati (2003)
”Merek menjadi sangat strategis bagi perusahaan
dikarenakan adanya manfaat yang diberikan bagi
penjual dan pembeli karena: 1) Pengelolaan merek
yang efektif dimungkinkan dapat mempertahankan
kesetiaan konsumen yang ada, nantinya bisa dipakai
untuk menghambat serangan pesaing dan membantu
memfokuskan program pemasaran; 2) Merek dapat
membantu dalam melakukan segmentasi pasar; 3)
Citra perusahaan dapat dibangun dengan merek yang
kuat dan memberi peluang dalam peluncuran merekmerek
baru yang lebih mudah diterima oleh pelanggan
dan distributor; 4) memberikan ciri-ciri produk yang
unik dan perlindungan hukum (hak paten) yang dapat
mempermudah prosedur klaim apabila terdapat cacat
produksi pada produk yang dibeli oleh
konsumen”.Menurut Simamora (2003), ekuitas merek
(brand equity) disebut juga nilai merek, yang
menggambarkan keseluruhan kekuatan merek di
pasar. Ekuitas merek memberikan suatu keunggulan
kompetitif bagi sebuah perusahaan karena orang lebih
cenderung membeli produk yang membawa nama
merek terkenal dan dihormati.
Menurut Aaker (1997), ekuitas merek atau
brand equity adalah:
“Seperangkat aset dan liabilitas merek yang berkaitan
dengan suatu merek, nama dan simbolnya, yang
menambah atau mengurangi nilai yang diberikan oleh
sebuah barang atau jasa kepada perusahaan atau para
pelanggan perusahaan. Ekuitas merek ini terdiri dari:
kesadaran merek, persepsi kualitas, asosiasi merek,
loyalitas merek dan aset-aset merek lainnya seperti
paten, cap, saluran hubungan. Empat elemen ekuitas
merek di luar aset-aset merek lainnya dikenal dengan
elemen-elemen utama dari ekuitas merek. Elemen
ekuitas merek yang kelima secara langsung akan di
pengaruhi oleh kualitas dari empat elemen utama
tersebut”.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ekuitas Merek
�� Kesadaran Merek (Brand Awareness)
Menurut Aaker (1997) ”Kesadaran Merek adalah
kesanggupan seorang pembeli untuk mengenali
dan mengingat kembali bahwa suatu merek
merupakan perwujudan kategori produk tertentu”.
Kesadaran merek membutuhkan jangkauan
kontinum (Continum Ranging) dari perasaan yang tak
pasti bahwa merek tertentu dikenal menjadi keyakinan
bahwa produk tersebut merupakan satu-satunya dalam
kelas produk bersangkutan, kontinum ini dapat
diwakili oleh tingkat kesadaran merek yang berbeda.
Sumber: Aaker (1997)
Gambar I.1. Piramida Brand Awareness
Jangkauan kontinum ini diwakili oleh 4
tingkatan kesadaran merek, yaitu:
1. Tidak Menyadari Merek (Unware of Brand)
Merupakan tingkatan merek yang paling rendah
dimana konsumen tidak menyadari akan
eksistensi suatu merek.
2. Pengenalan Merek (Brand Recognition)
Merupakan tingkat minimal dari kesadaran merek
yang merupakan pengenalan merek dengan
bantuan, misalnya dengan bantuan daftar merek,
daftar gambar, atau cap merek. Merek yang
masuk dalam ingatan konsumen disebut brand
recognition.
3. Pengingatan Kembali Merek (Brand Recall)
Mencerminkan merek-merek apa saja yang
diingat konsumen setelah menyebutkan merek
yang pertama kali disebut. Dimana merek-merek
yang disebutkan kedua, ketiga dan seterusnya
merupakan merek yang menempati brand recall
dalam benak konsumen.
Top Of Mind
Brand Recall
Brand Recognition
Unware of Brand
Jurnal Manajemen Bisnis, Volume 1, Nomor 2, Mei 2008: 48 - 58
51
4. Puncak Pikiran (Top of Mind)
Yaitu merek produk yang pertama kali disebutkan
oleh konsumen secara spontan atau yang pertama
kali dalam benak konsumen. Dengan kata lain
merek tersebut merupakan merek utama dari
berbagai merek yang ada dalam benak konsumen.
�� Kesan Kualitas (Perceived Value)
Menurut Aaker (1997) ”Kesan atau persepsi
kualitas merupakan persepsi konsumen terhadap
keseluruhan kualitas atau keunggulan suatu
produk atau jasa layanan yang sama dengan
maksud yang diharapkannya”.
Secara umum nilai-nilai atau atribut dari
kesan konsumen dapat digambarkan sebagai berikut:
Persepsi/Kesan
Kualitas
Alasan untuk membeli
Perluasan Merek
Minat Saluran distribusi
Harga optimum
Diferensiasi/posisi
Sumber: Rangkuti (2002)
Gambar I.2. Diagram Nilai dari Kesan Kualitas
Penjelasan dari Gambar I.2 di atas dapat
dilihat sebagai berikut:
1. Alasan membeli
Kesan kualitas sebuah merek memberikan alasan
yang penting untuk membeli. Hal ini
mempengaruhi merek-merek mana yang harus
dipertimbangkan, dan selanjutnya mempengaruhi
merek apa yang akan dipilih.
2. Diferensiasi/posisi
Diferensiasi mempunyai didefinisikan sebagai
suatu karakteristik penting dari merek, apakah
merek tersebut bernilai atau ekonomis juga
berkenaan dengan persepsi apakah merek tersebut
terbaik atau sekadar kompetitif terhadap merekmerek
lain.
3. Harga optimum
Keuntungan ini memberikan pilihan-pilihan
dalam menetapkan harga optimum yang bisa
meningkatkan laba atau memberikan sumber daya
untuk reinvestasi pada merek tersebut.
4. Minat Saluran distribusi
Keuntungan ini yaitu meningkatkan minat para
distributor dikarenakan dapat menawarkan suatu
produk yang memiliki persepsi kualitas tinggi
dengan harga yang menarik dan menguasai lalu
lintas distribusi tersebut untuk menyalurkan
merek-merek yang diminati konsumen.
5. Perluasan Merek
Kesan kualitas dapat dieksploitasi dengan cara
mengenalkan berbagai perluasan merek, yaitu
dengan menggunakan merek tertentu untuk
masuk kedalam kategori produk baru.
�� Asosiasi Merek
Asosiasi merek dapat menciptakan nilai bagi
perusahaan dan para pelanggan, karena ia dapat
membantu proses penyusunan informasi untuk
membedakan merek yang satu dengan merek
lainnya. Berbagai asosiasi yang diingat konsumen
dapat menghasilkan suatu bentuk citra tentang
merek (brand image) di benak konsumen.
Menurut Aaker (1997), “Asosiasi merek adalah
segala hal yang berkaitan dengan ingatan
mengenai merek. Terdapat lima keuntungan
asosiasi merek, yaitu: 1) Membantu proses
penyusunan informasi yang dapat meringkaskan
sekumpulan fakta yang dapat dengan mudah
dikenal konsumen; 2) Perbedaan, yang
mempunyai peran penting dalam menilai
keberadaan atau fungsi suatu merek dibandingkan
lainnya; 3) Alasan untuk membeli, yang sangat
membantu konsumen dalam mengambil
keputusan untuk membeli produk atau tidak; 4)
Perasaan positif yang merangsang tumbuhnya
perasaan positif terhadap produk; 5) Menjadi
landasan untuk perluasan merek yang dinilai
kuat”.
Konsumen yang terbiasa menggunakan merek
tertentu cenderung memiliki konsistensi terhadap
citra merek (brand image) yang disebut juga
dengan kepribadian merek (brand personality)
yang kemudian dapat membentuk kesetiaan
konsumen terhadap merek tertentu (brand
loyalty).
�� Loyalitas Merek
Definisi dari loyalitas merek adalah ukuran dari
kesetiaan konsumen terhadap suatu merek (Aaker:
1997). Loyalitas merek merupakan inti dari brand
equity yang menjadi gagasan sentral dalam
pemasaran, karena hal ini merupakan suatu
ukuran keterkaitan seorang pelanggan pada
sebuah merek. Apabila loyalitas merek meningkat
maka kerentaan kelompok pelanggan dari
serangan kompetitor dapat dikurangi. Hal ini
merupakan suatu indikator dari brand equity yang
berkaitan dengan perolehan laba dimasa yang
akan datang karena loyalitas merek secara
Fadli dan Inneke Qamariah Analisis Pengaruh Faktor-Faktor Ekuitas Merek…
52
langsung dapat diartikan sebagai penjualan di
masa depan.
Commited
Menyukai merek
Pembeli yang puas
dengan biaya peralihan
Pembeli yang puas/bersifat kebiasaan,
tidak ada masalah untuk beralih
Berpindah-pindah, peka terhadap
perubahan harga, tidak ada loyalitas merek
Sumber: Rangkuti (2002)
Gambar I.3. Piramida Loyalitas
Melalui gambar piramida loyalitas di atas
dapat dimengerti bahwa:
1. Tingkat loyalitas yang paling dasar adalah
pembeli yang tidak tertarik pada merek-merek
apapun yang ditawarkan. Konsumen seperti ini
suka berpindah-pindah merek atau disebut tipe
konsumen switcher atau price buyer (konsumen
yang lebih memperhatikan harga di dalam
melakukan pembelian)
2. Tingkat kedua adalah para pembeli yang merasa
puas dengan produk yang digunakan, atau
minimal tidak mengalami kekecewaan. Pada
dasarnya tidak terdapat dimensi ketidak puasan
yang dapat menjadikan sumber perubahan,
apalagi bila perpindahan ke merek yang lain itu
ada penambahan biaya. Para pembeli tipe ini
dapat disebut pembeli tipe kebiasaan (habitual
buyer).
3. Tingkat ketiga berisi orang-orang yang puas,
tetapi harus memikul biaya peralihan (switching
cost), baik dalam waktu, uang atau resiko
sehubungan dengan upaya untuk melakukan
pergantian ke merek lain. Kelompok ini biasanya
disebut dengan konsumen loyal yang merasakan
adanya suatu pengorbanan apabila ia melakukan
penggantian ke merek lain. Para pembeli tipe ini
disebut satisfied buyer.
4. Tingkat keempat adalah konsumen yang benarbenar
menyukai suatu merek Pilihan mereka
terhadap suatu merek dilandasi pada suatu
asosiasi, seperti simbol, rangkaian pengalaman,
atau kesan kualitas yang tinggi. Konsumen jenis
ini memiliki perasan emosional dalam menyukai
merek tersebut.
Tingkat teratas adalah para pelanggan yang setia
yang merasakan kebanggaan ketika menjadi
pengguna suatu merek karena merek tersebut
penting bagi mereka baik dari segi fungsi maupun
sebagai alat identitas diri.
�� Teori Keputusan Pembelian
Menurut Kotler (2000) terdapat empat jenis
perilaku pembelian konsumen, yaitu:
1) Perilaku pembelian yang rumit: perilaku ini
lazim terjadi bila produknya mahal, jarang dibeli,
berisiko, dan sangat mengekspresikan pribadi; 2)
Perilaku pembelian pengurang ketidaknyamanan/
ketidakcocokan: perilaku ini terjadi bila
konsumen melihat sedikit perbedaan di antara
merek dan tidak ada yang menonjol, didasarkan
kenyataan bahwa pembelian itu mahal dan
berisiko, pembeli akan memilih sambil
mempelajari apa yang tersedia namun akan
membeli dengan cepat; 3) Perilaku pembelian
karena kebiasaan: konsumen tidak membentuk
sikap terhadap sebuah merek tetapi memilihnya
karena itu sudah biasa dikenalnya, tidak
dilakukan pencarian informasi tentang merek; 4)
Perilaku pembelian yang mencari variasi: kondisi
keterlibatan konsumen rendah tetapi ditandai oleh
perbedaan merek yang nyata.
Perusahaan harus berusaha memastikan
kepuasan konsumen pada semua tingkat dalam proses
pembelian.
Sumber: Setiadi (2003)
Gambar I.4. Tahapan Proses Keputusan Pembelian
Untuk dapat menjelaskan hubungan antara
tahapan berdasarkan Gambar II.4 di atas dapat dilihat
pada perincian yang dikemukakan oleh Setiadi (2003)
sebagai berikut:
Setiadi (2003):1) Proses pengenalan kebutuhan, yaitu
ketika konsumen mengenali adanya masalah atau
kebutuhan. Kebutuhan itu akan digerakkan oleh
rangsangan dari dalam maupun dari luar dirinya; 2)
Proses pencarian informasi. Tahap ini merupakan
tahapan yang merangsang konsumen untuk mencari
informasi lebih banyak mengenai suatu produk; 3)
Evaluasi berbagai alternatif merek. Pada tahapan ini
konsumen menggunakan informasi untuk
mengevaluasi merek alternatif dalam menentukan
peringkat produk untuk dipilih; 4) Pilihan atas merek
produk untuk dibeli, dimana terjadi pembelian produk
atas merek yang disukai berdasarkan peringkat dari
tahapan 3, tetapi faktor situasi dan pendapat orang lain
juga menentukan dalam tahapan ini; 5) Perilaku pasca
pembelian. Kepuasan konsumen harus dipantau dari
mulai pasca pembelian, tindakan pasca pembelian dan
pemakaian produk pasca pembelian.
Pengenalan
Kebutuhan
Perilaku
Pasca
Pembelian
Evaluasi
Alternatif
Pencarian
Informasi
Keputusan
Pembelian
Jurnal Manajemen Bisnis, Volume 1, Nomor 2, Mei 2008: 48 - 58
53
Pemasaran merupakan permerekan itu sendiri.
Suatu permerekan yang tepat akan mempermudah
penjualan produk. Permerekan yang tepat akan
menarik minat massa untuk datang, melihat dan
akhirnya memiliki produk itu. Jika konsumen yang
datang telah menyukai strategi merek yang
dipromosikan, maka mereka akan melakukan apa saja
di dalam batasan tertentu demi merek yang
diinginkan, termasuk dalam pembelian terhadap
produk atas merek yang diinginkan (Ries: 2001).
Melalui Gambar I.5 tentang konsep ekuitas merek
yang mempengaruhi proses keputusan pembelian di
atas dapat diketahui bahwa merek juga membantu
meyakinkan konsumen, dimana mereka akan
mendapatkan kualitas yang konsisten ketika mereka
membeli produk merek tersebut. Menurut Aaker
(1997), “Merek itu berkaitan dengan cara konsumen
merasa dan membeli barang-barang bukan sekedar
sebuah karakteristik barang-barang tertentu”.
METODE PENELITIAN
Populasi dan Sampel
Populasi penelitian ini adalah seluruh
mahasiswa USU yang mengikuti Program Doktor,
Program Magister, Pendidikan Profesi, Program
Sarjana, Program Ekstensi, dan Program Diploma dan
juga seluruh staf administrasi maupun dosen USU
yang terdaftar dan aktif mengikuti perkuliahan serta
bekerja periode tahun akademik 2007/2008 yaitu
sebanyak 34.862 orang (www.usu.ac.id). Sehingga
diperoleh jumlah sampel yaitu sebanyak 100
responden.
Metode Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian
ini dengan menggunakan daftar pertanyaan
(questionnaire) dan dengan menggunakan studi
dokumentasi.
Sumber: Rangkuti (2002)
Gambar I.5. Konsep Ekuitas Merek yang Mempengaruhi Proses Keputusan Pembelian
EKUITAS
Loyalitas Merek MEREK
Memberikan Nilai Kepada
Perusahan Dengan Menguatkan :
�� efesiensi dan efektivitas program
pemasaran,
�� loyalitas merek,
�� harga / laba,
�� perluasan merek,
�� peningkatan perdagangan,
�� dan keunggulan kompetitif.
Aset Merek
Lainnya
Kesan Kualitas
Asosiasi Merek
Memberikan Nilai Kepada
Customer Dengan
Menguatkan Terhadap :
�� Interprestasi dan atau
proses informasi,
�� rasa percaya diri dalam
pembelian,
�� pencapaian kepuasan
dari pelanggan
Kesadaran Merek
Fadli dan Inneke Qamariah Analisis Pengaruh Faktor-Faktor Ekuitas Merek…
54
Definisi Operasional
Tabel I.5. Definisi Operasional
Variabel Definisi operasional Indikator Skala pengukuran
1 2 3 4
Kesadaran
merek (X1)
Kesanggupan konsumen mengingat merek sepeda
motor sebagai kategori produk tertentu, baik
melalui tingkat kepopuleran maupun media
promosi yang membedakan dengan pesaing.
1. Pengenalan merek
2. Media iklan
3. Kegiatan Promosi
Skala Likert
Kesan kualitas
(X2)
Persepsi atau kesan yang didapat konsumen
terhadap penilaian kualitas secara keseluruhan
terhadap suatu merek sepeda motor
1. Kinerja produk
2. Rancangan produk/desain
3. Nilai fungsional-harga jual
4. Kesempurnaan produk
5. Nilai emosional-kenyamanan
Skala Likert
Asosiasi merek
(X3)
Kesan yang muncul di benak konsumen setelah
melakukan penilaian terhadap merek sepeda motor
pilihan dibandingkan dengan merek sepeda motor
lainnya
1. Harga produk
2. Keamanan produk
3. Lokasi penjualan dan purnajual
Skala Likert
Loyalitas
merek (X4)
Keterikatan konsumen terhadap sebuah merek
sepeda motor yang mencakup rasa kesetiaan dan
kepuasan konsumen terhadap merek sepeda motor
pilihan dibandingkan dengan merek sepeda motor
lainnya
1. Merek Prioritas
2. Minat pembelian ulang
3. Peralihan ke merek lain
Skala likert
Kegiatan penentuan pemilihan produk/jasa oleh
konsumen yang umumnya terdiri dari lima tahapan
yaitu:
Pengenalan Masalah:
1. Pemenuhan Kebutuhan
2. Produk komoditas
Skala likert
Pengenalan Masalah, Pencarian Informasi, Evaluasi
Alternatif, Keputusan Pembelian, dan Perilaku
Pasca Pembelian
Pencarian Informasi:
1. Hambatan informasi
2. Pengamatan produk
3. Penilaian media promosi
Skala likert
Evaluasi Alternatif:
1. Nilai prestise produk
2. Harga beli secara umum
3. Nilai jual kembali
4. Standar kualitas
5. Nilai ekonomis
Skala likert
Keputusan Pembelian:
1. Pengaruh orang lain
2. Keinginan dan kemampuan
Skala likert
Keputusan
Pembelian
(Y)
Perilaku Pasca Pembelian
1. Penilaian terhadap kualitas
2. Nilai jangka panjang
3. Rekomendasi kepada orang
lain
4. Nama baik produsen
Skala likert
Model Analisis Data
Metode analisis data yang digunakan adalah
dengan menggunakan analisis statistik regresi linier
berganda dengan menggunakan software SPSS
(Statistical Package for Social Science) versi 12.
Hipotesis mengungkapkan bahwa kesadaran merek,
kesan kualitas, asosiasi merek, dan loyalitas merek
berpengaruh terhadap keputusan pembelian konsumen
terhadap sepeda motor merek Honda. Persamaan
regresinya adalah sebagai berikut:
Y = a + B1X1 + B2X2 + B3X3 + B4X4 + e
Keterangan:
Y = Keputusan pembelian konsumen
a = konstanta
B1, B2, B3, B4 = koefisien regresi
X1 = Kesadaran merek
X2 = Kesan kualitas
X3 = Asosiasi merek
X4 = Loyalitas merek
e = epsilon atau variabel yang tidak
diteliti
Dengan tingkat kepercayaan (confidence interval)
95% atau α = 0,05
Jurnal Manajemen Bisnis, Volume 1, Nomor 2, Mei 2008: 48 - 58
55
HASIL PENELITIAN
Semua variabel penelitian telah memenuhi
persyaratan yaitu uji validitas dan reliabilitas. Bila
korelasi positip dan r tabel sebesar atau sama dengan
0,30 maka butir instrumen tersebut dinyatakan valid
atau memiliki validitas konstruk yang baik
(Sugiyono: 2004). Menurut Sekaran (2005) yang
kurang dari 0,6 adalah kurang baik, sedangkan 0,7
dapat diterima dan reliabilitas dengan Cronbach alpha
0,8 atau di atasnya adalah baik.
HASIL PENGUJIAN HIPOTESIS
Pengujian Hipotesis Secara Serempak
Hasil uji-F berdasarkan Tabel I.6 diperoleh
nilai Fhitung sebesar 27,75 dengan tingkat signifikansi
sebesar 0.000. Nilai Ftabel dicari pada tabel F dengan
df1 = 4 dan df2 = 95 sehingga diperoleh nilai Ftabel
sebesar 2,53 dengan hasil tersebut dimana Fhitung >
Ftabel dan nilai signifikan yang lebih kecil dari pada
alpha 5% maka kesimpulan yang dapat diambil adalah
signifikan secara statistik. Hipotesis Ha diterima
karena Fhitung > Ftabel (27,75 > 2,53) dan signifikan F < alpha 5% (0,000 < 0,05) yang berarti bahwa secara bersama-sama terdapat pengaruh signifikan antara variabel bebas yaitu kesadaran merek, kesan kualitas, asosiasi merek, dan loyalitas merek terhadap variabel terikat yaitu keputusan pembelian. Kemampuan variabel kesadaran merek (X1), kesan yang dirasakan (X2), asosiasi merek (X3), dan loyalitas merek (X4) menjelaskan pengaruhnya terhadap keputusan pembelian sepeda motor merek Honda (Y) ditunjukkan pada Tabel I.7. Nilai R Square (R2) adalah sebesar 0,620 atau sama dengan 62%. R Square disebut juga sebagai koefisien determinasi. Nilai tersebut berarti bahwa sebesar 62% keputusan pembelian yang terjadi dapat dijelaskan dengan menggunakan variabel kesadaran merek, kesan kualitas, asosiasi merek, dan loyalitas merek. Sisanya yaitu sebesar 38% dijelaskan oleh faktor-faktor penyebab lainnya, dan model dinyatakan layak. Untuk menguji pengaruh faktor-faktor ekuitas merek yang terdiri dari kesadaran merek, kesan kualitas, asosiasi merek, dan loyalitas merek secara parsial terhadap keputusan pembelian konsumen terhadap sepeda motor merek Honda di lingkungan USU digunakan uji statistik t (uji t). Apabila nilai thitung > nilai ttabel, maka H0 ditolak dan Ha diterima.
Sebaliknya apabila nilai thitung < nilai ttabel, maka H0 diterima dan Ha ditolak. Hasil pengujian hipotesis secara parsial dapat dilihat pada Tabel 1.8. Berdasarkan hasil regresi linier berganda yang diolah dengan menggunakan bantuan software SPSS versi 12, maka diperoleh hasil persamaan regresi sebagai berikut: Y = 17.475 + 0,079 X1 + 0,828 X2 + 0,734 X3 + 1,328 X4 Dari Tabel I.8 diperoleh nilai thitung dari setiap variabel independen di dalam penelitian ini. Nilai thitung dari setiap variabel independen akan dibandingkan dengan nilai ttabel dengan menggunakan tingkat kepercayaan (confidence interval) 95% atau α = 0,05 maka diperoleh nilai ttabel 1,960. Tabel I.6. Hasil Pengujian Hipotesis Secara Serempak Model Sum of Squares df Mean Square F Sig. 1 Regression 1909.628 4 477.407 27.750 .000(a) Residual 1634.372 95 17.204 Total 3544.000 99 a Predictors: (Constant), X1,X2,X3,X4 b Dependent Variable: Keputusan Pembelian Sumber: Hasil Penelitian, 2008 (Data diolah) Tabel I.7. Nilai Koefisien Determinansi (R2) Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 .788(a) .620 .600 1.94905 a Predictors: (Constant), Kesadaran Merek, Kesan Kualitas, Asosiasi Merek, Loyalitas Merek b Dependent Variable: Keputusan Pembelian Sumber: Hasil Penelitian, 2008 (Data diolah) Fadli dan Inneke Qamariah Analisis Pengaruh Faktor-Faktor Ekuitas Merek… 56 Tabel I.8. Hasil Pengujian Hipotesis Secara Parsial Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients T Sig. B Std. Error Beta B Std. Error 1 (Constant) 17.475 4.156 4.205 .008 Kesadaran Merek .079 .284 .022 .277 .782 Kesan Kualitas Asosiasi Merek .828 .734 .245 .319 .301 .174 3.373 2.301 .001 .024 Loyalitas Merek 1.328 .291 .418 4.564 .000 a Dependent Variable: Keputusan Pembelian Sumber: Hasil Penelitian, 2008 (Data diolah) Pembahasan Hasil Penelitian Pemilihan responden adalah mahasiswa USU yang mengikuti Program Doktor, Program Magister, Pendidikan Profesi, Program Sarjana, Program Ekstensi, dan Program Diploma dan juga seluruh staf administrasi maupun dosen USU yang terdaftar dan aktif mengikuti perkuliahan serta bekerja periode tahun akademik 2007/2008. �� Variabel Kesadaran Merek Berdasarkan Tabel IV.20 di atas, dapat diketahui bahwa secara parsial pengaruh dari variabel kesadaran merek (X1) terhadap keputusan pembelian (Y) memiliki nilai thitung (0,277) < nilai ttabel (1,960), maka keputusannya adalah menerima H0 dan Ha ditolak. Hal ini berarti variabel kesadaran merek tidak berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian sepeda motor merek Honda. �� Variabel Kesan Kualitas Dengan taraf signifikansi 95% dimana diperoleh nilai ttabel 1,960, variabel kesan kualitas memiliki nilai thitung (3,373) > nilai ttabel (1,960) sehingga
hipotesis H0 ditolak dan Ha diterima. Ini berarti
bahwa ada pengaruh kesan kualitas terhadap
keputusan pembelian konsumen terhadap sepeda
motor merek Honda. Hasil penelitian ini sesuai
dengan pendapat Durianto, dkk. (2004) yang
menyatakan bahwa kesan kualitas (perceived
quality) harus diikuti dengan peningkatan kualitas
yang nyata dari produknya. Kesan atau mutu
yang dirasakan mencerminkan perasaan
konsumen secara menyeluruh mengenai suatu
merek, sehingga menjadi sangat berperan dalam
keputusan konsumen dalam memutuskan merek
yang akan dibeli dan akhirnya akan sampai pada
tahap evaluasi yang menuju pada rasa puas dan
tidak puas. Kesan kualitas ini merupakan variabel
yang secara terus menerus akan diingat oleh
konsumen ketika mereka mendengar atau melihat
sesuatu hal yang berkaitan dengan identitas dari
suatu produk.
�� Variabel Asosiasi Merek
Dengan nilai thitung (2,301) > nilai ttabel (1,960)
maka hipotesis H0 ditolak dan Ha diterima yang
berarti bahwa ada pengaruh asosiasi merek
terhadap keputusan pembelian konsumen
terhadap sepeda motor merek Honda. Hasil
penelitian ini sesuai dengan pendapat Aaker
(1997) yang menyatakan bahwa asosiasi merek
yang memberikan manfaat bagi konsumen
(customer benefits), dapat memberikan alasan
spesifik bagi konsumen untuk membeli dan
menggunakan merek tersebut. Asosiasi merek
mempengaruhi keputusan konsumen untuk
membeli produk dengan cara memberikan rasa
puas berupa kredibilitas dan rasa percaya diri atas
merek tersebut.
�� Variabel Loyalitas Merek
Berdasarkan Tabel I.8 di atas dapat diketahui
bahwa pengaruh secara parsial dari variabel
loyalitas merek (X4) terhadap keputusan
pembelian (Y) dengan nilai thitung (4,564) > nilai
ttabel (1,960) maka hipotesis H0 ditolak dan Ha
diterima. Penelitian ini sesuai dengan pendapat
Sunarto (2003) yang menyatakan bahwa loyalitas
merek sebagai sejauh mana seorang konsumen
menunjukkan sikap positif terhadap suatu merek,
mempunyai komitmen pada merek tertentu, dan
berniat untuk terus membelinya di masa depan.
Hal ini juga sesuai dengan penelitian Hatane dan
Foedjiawati (2005) yang menyatakan bahwa
terdapat hubungan positif yang signifikan antara
kepuasan dan keputusan konsumen dengan
loyalitas merek. Dari keempat faktor ekuitas
merek yaitu kesadaran merek, kesan kualitas,
asosiasi merek, dan loyalitas merek diketahui
variabel yang paling dominan mempengaruhi
keputusan pembelian terhadap sepeda motor
Jurnal Manajemen Bisnis, Volume 1, Nomor 2, Mei 2008: 48 - 58
57
merek Honda adalah faktor loyalitas merek. Hal
ini dapat dilihat berdasarkan nilai Unstandarized
Coefficients pada Tabel I.8 yang mempunyai nilai
koefisien terbesar (1,328) dibandingkan dengan
nilai koefisien variabel lainnya.
PENUTUP
�� Kesimpulan
Dari hasil penelitian dan pembahasan maka
dapat ditarik kesimpulan dari penelitian ini bahwa
secara serempak ekuitas merek yang terdiri dari
variabel kesadaran merek, kesan kualitas, asosiasi
merek, dan loyalitas merek berpengaruh sangat
signifikan terhadap keputusan pembelian sepeda
motor merek Honda di lingkungan Universitas
Sumatera Utara, dan secara parsial variabel loyalitas
merek, kesan kualitas dan asosiasi merek berpengaruh
signifikan terhadap keputusan pembelian sepeda
motor merek Honda di lingkungan Universitas
Sumatera Utara, sedangkan variabel kesadaran merek
tidak berpengaruh signifikan terhadap keputusan
konsumen dalam melakukan pembelian sepeda motor
merek Honda.
Variabel yang dominan berpengaruh terhadap
keputusan pembelian sepeda motor merek Honda di
lingkungan Universitas Sumatera Utara adalah
variabel loyalitas merek. Hal ini berarti bahwa sepeda
motor merek Honda telah memberikan keterikatan
emosional yang dipengaruhi oleh kepuasan yang
dirasakan oleh konsumen yang telah menggunakan
sepeda motor merek Honda.
DAFTAR PUSTAKA
Buku:
Aaker, David. A, 1997, Manajemen Ekuitas Merek,
Penerbit Mitra Utama, Jakarta.
Ambadar, Jackie, 2007, Mengelola Merek, Penerbit
Yayasan Bina Karsa Mandiri, Jakarta.
Arnold, David, 1996, Pedoman Manajemen Merek,
PT. Katindosaho, Surabaya.
Arikunto, Suharsimi, 1998, Prosedur Penelitian,
Edisi Keempat, Penerbit Rineka Cipta,
Jakarta.
Durianto, Darmadi dkk, 2001, Strategi
Menaklukkan Pasar, Penerbit PT Gramedia
Pustaka Utama, Jakarta.
Durianto, Darmadi, Sugiarto, Dan Lie, Joko Budiman,
2004, Brand Equity Ten, Penerbit PT
Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Hermawan, Asep, 2003, Pedoman Praktis Metodologi
Penelitian Bisnis, Lembaga Penerbit Fakultas
Ekonomi (LPFE), Universitas Trisakti,
Jakarta.
Kotler, Philip, 2000, Manajemen Pemasaran: Analisis
Perencanaan, Implementasi, dan
Pengendalian, Jilid Pertama Edisi Millenium,
Penerbit PT Prehallindo, Jakarta
Kuncoro, Mudradjat, 2003, Metode Riset untuk Bisnis
& Ekonomi, Penerbit Erlangga, Jakarta.
Mas’ud, Fuad, 2004, Survai Diagnosis
Organisasional, Badan Penerbit Universitas
Diponegoro, Semarang.
Nicolino, Patricia F., 2004, The Complete Ideal’s
Guide for Brand Management, Edisi Pertama,
Penerjemah Sugiri, Penerbit Prenada Media,
Jakarta.
Nugroho, Bhuono Agung, 2005, Strategi Jitu Memilih
Metode Statistik Penelitian dengan SPSS,
Andi Offset, Yogyakarta.
Rangkuti, Freddy, 2002, The Power of Brands
(Tehnik Mengelola Brand Equity dan
Strategi Pengembangan Merek), Penerbit
PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Ries & Ries dan Hermawan Kertajaya, 2000, The 22
Immutable Laws of Branding, Penerbit PT.
Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Santoso, Singgih, 2002, Riset Pemasaran: Konsep dan
Aplikasi dengan SPSS, Penerbit PT. Elex
Media Komputindo, Jakarta.
Sarwono, Jonathan, 2005, Teori dan Praktik Riset
Pemasaran dengan SPSS, Andi Offset,
Yogyakarta.
Sekaran, 2005, Metode Riset Bisnis, Penerbit Salemba
Empat, Jakarta.
Setiadi, Nugroho J.,2003, Perilaku Konsumen,
Penerbit Prenada Media, Jakarta.
Sevilla, Consuelo,1993, Pengantar Metode Penelitian,
Penerbit Universitas Indonesia Press, Jakarta.
Simamora, Bilson, 2003, Aura Merek, Penerbit PT
Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Sugiyono, 2004, Metode Penelitian Bisnis, Penerbit
CV. Alfabeta, Jakarta.
Supranto, J, 1998, Metode Riset dan Aplikasinya
dalam Pemasaran, Edisi Revisi, Lembaga
Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas
Indonesia.
Susanto dan Wijanarko, Himawan, 2004, Power
Branding (Membangun Merek Unggul dan
Organisasi Pendukungnya), Penerbit Quantum
Bisnis dan Manajemen, Jakarta.
Sutisna, 2003, Perilaku Konsumen dan Komunikasi
Pemasaran, Penerbit Remaja Rosdakarya,
Bandung.
Fadli dan Inneke Qamariah Analisis Pengaruh Faktor-Faktor Ekuitas Merek…
58
Tjiptono, Fandy, 2005, Brand Management &
Strategi, Penerbit ANDI, Yogyakarta.
Tjiptono, Chandra,dkk, 2004, Marketing Scales,
Penerbit ANDI, Yogyakarta.
Umar, Husein, 2000, Riset Pemasaran & Perilaku
Konsumen, PT. Gramedia Pustaka Utama,
Jakarta.
Jurnal:
Afiff, Adi Zakaria, 2006, Pengaruh Strategi Brand
Extension dalam Mereduksi Negative
Reciprocity Effect terhadap Parent Brand,
Jurnal Marketing Usahawan, No.12, Tahun
XXXV, Desember 2006.
Retnawati, Berta, 2003, Strategi Penguatan Merek dan
Revitalisasi Merek Menuju Pengelolaan
Merek Jangka Panjang, Jurnal Brand
Management Usahawan, No. 07,Tahun
XXXII, Juli 2003.
Shellyana J. Dan Basu S.D.,2002, Pengaruh
Ketidakpuasan Pengguna,Karakteristik
Kategori Produk, dan Kebutuhan Mencari
Variasi terhadap Keputusan Perpindahan
Merek, Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia,
Vol.17, 2002.
Pratikno, Nugroho, 2003,________,Jurnal Sains
Pemasaran Indonesia, UNPAD, Bandung,
2002
Tesis:
Lubis, Aderina, 2007, Analisis Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi Keputusan Konsumen Dalam
Pembelian Sepeda Motor Merek Honda di
Kota Medan, Program Magister Ilmu
Manajemen, Universitas Sumatera Utara,
Medan.
Panggabean, Donna, 2005, Analisis Pengaruh Faktor-
Faktor Ekuitas Merek Papa Ron’s Terhadap
Kepuasan Konsumen (Studi Kasus Pada
Restoran Papa Ron’s di Medan), Program
Magister Ilmu Manajemen, Universitas
Sumatera Utara, Medan.
Setiawan, Romi, 2006, Analisis Pengaruh Kegiatan
Pemasaran Terhadap Penguatan Ekuitas
Merek (Studi Pada Consumer - Convenience
Goods di Fakultas Ekonomi Universitas
Indonesia), Program Magister Universitas
Indonesia, Jakarta.
Internet:
Http://aisi..co.id. Dikunjungi tanggal 05 Januari 2008.
Http://wartaekonomi.com. Dikunjungi tanggal 05
Januari 2008.
Http://answer.com. Dikunjungi tanggal 15 April 2008
Hatane, Samuel dan Foedjiawati,
Http://Puslit.Petra.ac.id,_Pengaruh Kepuasan
Konsumen Terhadap Kesetiaan merek (Studi
Kasus Restoran The Prime Steak & Ribs
Surabaya). Dikunjungi tanggal 02 Oktober
2007.
Mariana, www.google.com,_ Analisis Persepsi
Konsumen Terhadap Brand Equity Nokia,
Samsung, dan Ericcson di Yogyakarta.
Dikunjungi tanggal 15 September 2007.
Wahdian, Muharram, http://Digilib.Unikom.
ac.id,_Pengaruh Ekuitas Merek Mesin Cuci
Lux Terhadap Loyalitas Konsumen di
Kotamadya Bandung. Dikunjungi tanggal 20
September 2007.
Sagita, Uung, Http://Digilib.Unikom.ac.id,_Pengaruh
Ekuitas Merek Terhadap Proses Pengambilan
Keputusan Pembelian Pada Salon Jhonny
Andrean Cabang Bandung Indah Plaza.
Dikunjungi tanggal 20 September 2007.
Jurnal Manajemen Bisnis, Volume 1, Nomor 2, Mei 2008: 48 - 58
59
PENGARUH SOSIODEMOGRAFI DAN KARAKTERISTIK PEKERJAAN
TERHADAP KEINGINAN PINDAH KERJA BIDAN
DI KABUPATEN SERDANG BEDAGAI
Muhammad Surya Desa,1Endang Sulistya Rini2, dan Syarifah3
1 Dinas Kesehatan Kabupaten Serdang Bedagai, Jl. Negara No.300 Sei Rampah
2 Staf Pengajar Fakultas Ekonomi dan Manajemen USU, Kampus USU Padang Bulan Medan
3 Staf Pengajar Sekolah Pascasarjana USU, Jl. Sivitas Akademika Kampus USU Padang Bulan Medan
Abstract
Midwife is one of the trained health personnel who are responsible for mother and child health service.
The rate of turnover for 2004-2007 was 19,75%. That is affecting to continuity of delivery assistance and
mother and child health service.
The purpose of this study with explanatory research type is to explain the influence of sociodemography
and job characteristics on midewives intention to move their work site in Serdang Bedagai District.
The population of this study were 372 midwives an 80 of them were selected through the proportional sampling
technique to be samples. The data were analyzed through logistic regression test at the level of confidence of
95%.
The result of this study shows that, in terms of the variable of sosio-demography, age (p=0,134), marital
status (p=0,465), civil-servant status (p=0,510), position (p=0,717), and length of service (p=0,804) are not have
significant influence to intention the midwives to move their work site. In term of the variable of job
characteristics, work load (p=0,813) and compensation (p=0,880) are not have influence on the intention the
midwives to move their work site. The variables which have influence to intention the midwives to move are
work-related (p=0,013), and social support (p=0,002). It is suggested to District Health Service to improved a
meeting periodically among midwive and community of figures and recruitment planning of midwife according
to requirement and location as according to social characteristic and culture dan to facilited a meeting
periodically of midwives and advice on temporary employee management is required in order to keep them fit
the need.
Keywords: sosio-demography, job characteristics, turnover intention
PENDAHULUAN
Program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)
adalah bagian integral dari konsep pembangunan
kesehatan menuju Indonesia Sehat 2010. Program
KIA bertujuan untuk meningkatkan pelayanan
antenatal di semua fasilitas pelayanan kesehatan
dengan mutu yang baik serta menjangkau semua
kelompok sasaran, meningkatkan pertolongan
persalinan oleh tenaga profesional, meningkatkan
deteksi dini risiko tinggi ibu hamil dan melaksanakan
sistem rujukan serta meningkatkan pelayanan
neonatal dengan mutu yang baik5
Angka Kematian Ibu (AKI) di Sumatera Utara
tahun 2003 berkisar 379 per 100.000 kelahiran hidup,
dengan cakupan Antenatal Care (ANC) yaitu
kunjungan pertama (K1) 82,96% dan kunjungan
keempat (K4) 75,56% serta persalinan pertolongan
oleh tenaga kesehatan 74,98%.
Dilihat dari proporsi tenaga Bidan di
Indonesia sebesar 34,8 per 100.000 penduduk, dan
untuk Sumatera Utara 9,4 per 100.000 penduduk.
Angka ini masih sangat jauh dari standar yang
direkomendasikan Depkes RI yaitu 100 per 100.000
penduduk6
Hasil Survei Kesehatan Daerah tahun 2005 di
Kabupaten Serdang Bedagai, diketahui bahwa angka
kematian selama periode 5 tahun (2001-2005),
tertinggi terdapat pada kelompok umur 65 – 69 tahun,
yaitu sebesar 95.23 per 10.000 penduduk, menyusul
kelompok 70 tahun ke atas, sebesar 71,42 per 10.000
penduduk dan kelompok 0–1 tahun sebesar 54,26 per
10.000 penduduk. Berdasarkan kunjungan ANC
diketahui mayoritas ibu yang mempunyai Balita
melakukan ANC sebesar 90,6%, tidak melakukan
ANC sebesar 9,02%, dan tidak tahu tentang ANC
sebesar 0,38%.
Proporsi kematian ibu hamil tahun 2006
adalah sebanyak 16 orang (0,11%) dari 14.073 ibu
hamil. Kematian ibu melahirkan tertinggi terdapat di
wilayah Kecamatan Kotarih 3,6/1.000 kelahiran
hidup, disusul Kecamatan Dolok Masihul sebesar
Muhammad Surya Desa, Endang Sulistya Rini, dan Syarifah Pengaruh Sosiodemografi dan Karakteristik…
60
1,8/1000 kelahiran hidup. Tingginya angka kematian
ibu disebabkan oleh komplikasi persalinan (0,9 per
1.000 kelahiran hidup) dan komplikasi kehamilan
(0,14 per 1.000 ibu hamil)9
Berdasarkan pemanfaatan pelayanan
kesehatan, sebagian besar anggota keluarga yang sakit
mencari pengobatan di praktek petugas kesehatan
(30,8 %), puskesmas (28%) dan poliklinik (13,9 %).
Keadaan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat
lebih memilih praktek petugas kesehatan dibanding
puskesmas. Dilihat dari pertolongan persalinan,
penolong pertama pada proses persalinan dilakukan
oleh tenaga kesehatan yaitu bidan (77,13%), dokter
(7,88%) dan paramedis (4,7%). Pertolongan oleh
keluarga dan dukun masih dijumpai pada daerah ini9
Salah satu tenaga kesehatan yang terlibat
langsung terhadap pelayanan kesehatan ibu dan anak
adalah bidan. Bidan mempunyai tugas penting dalam
memberikan bimbingan, asuhan dan penyuluhan
kepada ibu hamil, persalinan dengan tanggung
jawabnya sendiri dan memberikan asuhan kepada bayi
baru lahir. Asuhan ini termasuk tindakan pencegahan,
deteksi kondisi abnormal pada ibu dan anak, dan
melaksanakan tindakan kegawatdaruratan medik7
Bidan di masyarakat dituntut untuk
profesional dan mampu memberikan pelayanan
kesehatan yang berkualitas kepada masyarakat.
Pelayanan kesehatan berkualitas tergantung dari
kompetensi bidan, ketersediaan sarana dan prasarana
yang mendukung, kondisi lingkungan kerja yang
kondusif serta standar mutu pelayanan kesehatan
lainnya dalam hal ini pelayanan kesehatan ibu dan
anak6,7.
Proporsi bidan di Kabupaten Serdang Bedagai
hanya berkisar 0,5 per 100.000 penduduk. Bila
dibandingkan dengan indikator Indonesia Sehat 2010
proporsi bidan tersebut masih jauh di bawah standar
yaitu 100 bidan per 100.000 penduduk6
Meskipun proporsi bidan di Kabupaten
Serdang Bedagai masih rendah namun masih ada juga
yang melakukan perpindahan antar desa, antar
puskesmas, antar kabupaten di Kabupaten Serdang
Bedagai serta pindah ke Rumah Sakit Umum Daerah.
Selama kurun waktu 2004-2007, terjadi fluktuasi
perekrutan dan perpindahan bidan. Tahun 2004
jumlah Bidan PTT dan PNS berjumlah 116 orang,
tahun 2005 meningkat menjadi 242 orang, dan tahun
2006 meningkat menjadi 335 orang, dan 372 orang
pada tahun 2007. Proporsi perpindahan bidan dari dan
berbagai lokasi perpindahan setiap tahun meningkat
dengan rata-rata perpindahan 27,00, artinya selama 4
(empat) tahun rata-rata bidan yang melakukan
perpindahan dari satu lokasi ke lokasi lain sebanyak
20 orang. Dengan rata-rata perpindahan tersebut
berdampak terhadap rasio bidan disetiap wilayah
kerjanya, artinya ada wilayah dengan rasio bidan
berdasarkan penduduk yang rendah yaitu wilayah
yang ditinggalkan bidan dan ada yang sangat tinggi,
sehingga tidak dapat mengakomodir pelayanan asuhan
kebidanan kepada masyarakat dengan turnover ratenya
sebesar 19,75 %, sedangkan jika dibandingkan
dengan rata-rata perekrutan bidan yaitu 24,03%
artinya setiap tahunnya terdapat 4,28% bidan yang
direkrut harus menutupi kekosongan pada wilayah
yang ditinggalkan, sementara analisis kebutuhan bidan
sesuai dengan perencanaan tidak terpenuhi10,11.
Keadaan tersebut menyebabkan minimnya
pertolongan persalinan, perawatan dan asuhan
keperawatan bagi ibu hamil dan balita yang dilakukan
oleh tenaga kesehatan terlatih di lokasi yang
ditinggalkannya. Untuk itu pemerintah pusat
memberikan kesempatan kepada pemerintah daerah
dalam hal ini Dinas Kesehatan Daerah untuk
mengusulkan jumlah bidan yang dibutuhkan untuk
diangkat menjadi bidan PTT dan usulan formasi bidan
untuk diangkat menjadi PNS. Namun pada
kenyataannya pengusulan bidan menjadi bidan PTT
masih berdasarkan formasi yang ditetapkan Depkes
RI, demikian juga bidan yang diangkat menjadi PNS
tetap mengacu pada ketentuan dan formasi dari Badan
Kepegawaian Daerah dan Nasional.
Dinas Kesehatan Daerah Kabupaten Serdang
Bedagai yang mempunyai wewenang terhadap
pembangunan kesehatan tetap memberdayakan
sumber daya manusia yang ada meskipun belum
sesuai dengan proporsi yang diharapkan untuk
memberikan pelayanan kesehatan ibu dan anak. Hal
ini tercermin dari program-program kesehatan seperti
pelayanan bergerak, peningkatan operasional bidan
desa, pengurangan jumlah bidan di Puskesmas,
penempatan tenaga bidan ke poskesdes yang telah
dibangun, pengiriman tenaga bidan untuk mengikuti
pelatihan asuhan kebidanan secara berkala serta
memberikan sarana dan prasarana penunjang tugas
kebidanan di masyarakat seperti bidan kit.
Kebijakan Depkes RI tentang pengangkatan
Bidan PTT mewajibkan bidan PTT mengabdi di
masyarakat selama 3 (tiga) tahun, dan penempatannya
merupakan wewenang dari Dinas Kesehatan Daerah,
maka secara administrasi hanya berhubungan dengan
Dinas Kesehatan Daerah saja. Keadaan ini dinilai
mempermudah bidan PTT untuk meminta pindah dari
satu desa ke desa yang lain baik masih di wilayah
kerja puskesmas semula atau puskesmas lainnya serta
perpindahan ke Rumah Sakit Umum Daerah Serdang
Bedagai dengan berbagai alasan. Rata-rata alasan
perpindahan bidan tersebut adalah ikut suami dan
mengurus orang tua yang telah usia lanjut12
Jurnal Manajemen Bisnis, Volume 1, Nomor 2, Mei 2008: 59 - 68
61
Perpindahan bidan memberikan masalah baru
bagi daerah yang ditinggalkan yaitu kekurangan
tenaga kesehatan terlatih di suatu daerah/desa,
keberlangsungan pelayanan kesehatan dasar
khususnya pertolongan persalinan bagi ibu, pelayanan
kesehatan bagi ibu hamil, dan pelayanan kesehatan
lainnya akan terhambat. Hal ini akan memberikan
dampak secara tidak langsung terhadap peningkatan
angka kesakitan dan kematian ibu hamil, dan ibu
bersalin, karena akan memberikan kesempatan bagi
dukun-dukun bersalin di lokasi kerja yang
ditinggalkan. Sementara dilihat dari proporsi jumlah
bidan justru masih sangat minim dibandingkan dengan
jumlah penduduk, sedangkan pergantian bidan pada
desa yang ditinggalkan membutuhkan waktu 1 (satu)
periode pengangkatan bidan PTT baru.
Dampak lain dari perpindahan bidan dari dan
ke suatu daerah dilihat dari aspek epidemiologis
adalah erat kaitannya dengan dokumentasi atau
riwayat tindakan medis yang dilakukan sebelumnya,
sehingga kesinambungan riwayat penyakit masyarakat
yang ditangani oleh bidan sebelumnya tidak dapat
diketahui oleh bidan yang baru atau tenaga medis lain
yang ada di wilayah yang ditinggalkan bidan tersebut,
seperti frekuensi kunjungan pelayanan antenatal,
selain itu juga berdampak jangka panjang berupa
peningkatan kasus-kasus kematian akibat terlambat
mendapatkan pertolongan persalinan, atau ibu hamil
resiko tinggi. Melihat dampak dari perpindahan bidan
di suatu wilayah yang sangat besar kontribusinya
terhadap keberlangsungan pelayanan kesehatan ibu
dan anak, maka perlu dilakukan upaya atau strategi
manajemen sumber daya manusia khususnya dalam
pengelolaan dan rekruitmen bidan di kabupaten
Serdang Bedagai.
Melihat fenomena keinginan pindah kerja
bidan di Kabupaten Serdang Bedagai yang merupakan
kabupaten dengan kategori desa biasa bukan daerah
terpencil justru terjadi peningkatan jumlah bidan yang
ingin pindah. Berdasarkan analisis turnover dan
kondisi karakteristik sosial di Kabupaten Serdang
Bedagai serta dampak dari perpindahan bidan di
kabupaten Serdang Bedagai, maka peneliti tertarik
untuk melakukan penelitian bagaimana pengaruh
sosiodemografi (umur, status perkawinan, status
kepegawaian, jabatan, masa kerja) dan karakteristik
pekerjaan (beban kerja, hubungan kerja, dukungan
sosial dan kompensasi) terhadap keinginan pindah
kerja bidan di Kabupaten Serdang Bedagai, sehingga
dapat dirumuskan strategi kebijakan manajemen
sumber daya kesehatan dan peningkatan produktivas
kerja tenaga kesehatan di Kabupaten Serdang
Bedagai, serta memberikan kontribusi terhadap upaya
pembinaan dan pengawasan terhadap kinerja Bidan
Desa di wilayah kerjanya masing-masing.
METODE PENELITIAN
Penelitian survai analitik dengan type
explanatory research dilakukan terhadap bidan di
wilayah kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Serdang
Bedagai dengan waktu pelaksanaan selama delapan
bulan terhitung bulan Desember 2007 sampai Juli
2008.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh
bidan yang bertugas di 17 (tujuh belas) puskesmas di
Kabupaten Serdang Bedagai berjumlah 372 orang
dengan jumlah sampel 80 orang diambil secara
proporsional sampling.
Metode pengumpulan data dilakukan dengan
wawancara berpedoman pada kuesioner, dan studi
dokumentasi. Analisis data menggunakan uji regresi
logistik dengan tingkat kepercayaan 95%.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Keinginan Pindah Kerja Bidan
Beberapa indikator adanya keinginan pindah
kerja dari suatu tempat kerja adalah adanya perasaan
bosan, ketidaknyamanan lingkungan kerja, adanya
konflik dan saingan sesama rekan kerja, tidak adanya
reward dari pimpinan unit kerja dan keinginan yang
sudah terbentuk dalam bentuk pengusulan pindah
secara administrasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
keinginan pindah bidan di Kabupaten Serdang
Bedagai relatif bervariasi berdasarkan beberapa
indikator. Namun secara umum 71,2% responden
menyatakan nyaman bekerja dilingkungan kerja
sekarang, 70% responden merasa tersaingi oleh tenaga
medis lain atau bidan yang ada di wilayah kerjanya,
dan 33,8% menyatakan bosan bekerja diwilayah kerja
sekarang, dan 75,0% merasa tidak ada bedanya
bekerja ditempat lain atau wilayah kerja lain dan 70%
menyatakan mereka tidak memperoleh perhatian dari
pemerintah daerah seperti promosi karir, atau
pemberian fasilitas kerja.
Berdasarkan tindakan untuk melakukan
pindah, 70% responden menyatakan sudah terpikir
untuk pindah dari tempat kerja atau wilayah kerja
sekarang, namun hanya 30% yang sudah mengajukan
permohonan kepada kepala Puskesmas melalui bidan
koordinator untuk pindah ke wilayah kerja lainnya.
Adapun alasan secara keseluruhan adanya
keinginan pindah kerja bidan tersebut, cenderung
didominasi oleh perasaan disaingi oleh tenaga medis
lain, karena pekerjaan yang dilakukan oleh bidan juga
dapat dilakukan oleh dokter umum kecuali proses
persalinan seperti mengobati pasien, memberi obat,
penyuluhan kesehatan dan pemeriksaan kehamilan.
Muhammad Surya Desa, Endang Sulistya Rini, dan Syarifah Pengaruh Sosiodemografi dan Karakteristik…
62
Selain itu juga dipengaruhi oleh ketidaknyamanan
pada lingkungan kerja sekarang, dimana mereka
merasa bahwa kehadirannya dalam memberikan
pelayanan asuhan kebidanan tidak diterima oleh
masyarakat sekitar. Hal ini dipengaruhi oleh status
kepercayaan bidan dengan kepercayaan masyarakat
sekitar, serta adanya persaingan sesama profesi atau
para medis lainnya, karena pekerjaan yang dilakukan
oleh bidan juga dapat dilakukan oleh dokter umum,
kecuali proses persalinan seperti tindakan pelayanan
medis lain seperti mengobati pasien dengan penyakit
infeksi, memberikan penyuluhan kesehatan,
pemeriksaan kondisi kesehatan ibu hamil.
Selain itu adanya persepsi masyarakat bahwa
bidan-bidan yang ditempatkan di daerah mereka
terlalu muda dalam menangani persalinan maupun
tindakan asuhan kebidanan lainnya, masyarakat lebih
cenderung mengambil keputusan untuk mendapatkan
pelayanan kebidanan dari dokter kandungan, atau
bidan senior yang ada di daerah itu sendiri atau daerah
yang berdekatan. Hal ini berdampak terhadap jumlah
pasien yang ditangani oleh bidan yang baru
ditempatkan, sehingga pada waktu yang lama akan
menimbulkan rasa bosan, kebutuhan hidup tidak
terpenuhi karena tidak ada pemasukan, perasaan
tersaingi dan berbagai bentuk kompleksitas pemikiran
yang mengarah pada ingin pindah dari lokasi kerja
sekarang.
Dampak dari turnover bidan di desa adalah
terjadinya kekurangan tenaga terlatih dalam
memberikan pelayanan kesehatan khususnya
pelayanan asuhan kebidanan di suatu wilayah,
meskipun secara umum tidak mengurangi proporsi
bidan dibandingkan dengan jumlah penduduk
keseluruhan kabupaten Serdang Bedagai, namun
proporsi jumlah bidan berdasarkan jumlah penduduk
disuatu desa akan berkurang.
Dampak lain adalah terhambatnya
keberlangsungan pelayanan kesehatan ibu dan anak,
karena pelayanan ini hanya dapat dilakukan oleh
bidan desa khususnya mengenai pemeriksaan
kehamilan, pertolongan persalinan dan pelayanan
kesehatan reproduksi wanita seperti pemasangan alat
kontrasepsi. Kemudian dampak jangka panjangnya
adalah rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap
bidan-bidan baru yang akan ditempatkan nantinya,
karena biasanya mereka memperoleh pelayanan dari
bidan sebelumnya harus beradaptasi dan mencobacoba
untuk memperoleh pelayanan kembali dari bidan
yang baru ditempatkan, selain itu akan terjadi
perbedaan penetapan tarif pelayanan, dan ini akan
berdampak besarnya biaya yang dikeluarkan oleh
masyarakat untuk memperoleh pelayanan kesehatan.
Dampak lain dari perpindahan bidan dari dan
ke suatu daerah dilihat dari aspek epidemiologis
adalah erat kaitannya dengan dokumentasi atau
riwayat tindakan medis yang dilakukan sebelumnya,
sehingga kesinambungan riwayat penyakit masyarakat
yang ditangani oleh bidan sebelumnya tidak dapat
diketahui oleh bidan yang baru atau tenaga medis lain
yang ada di wilayah yang ditinggalkan bidan tersebut,
seperti frekuensi kunjungan pelayanan antenatal,
selain itu juga berdampak jangka panjang berupa
peningkatan kasus-kasus kematian akibat terlambat
mendapatkan pertolongan persalinan, atau ibu hamil
resiko tinggi3. Melihat dampak dari perpindahan bidan
di suatu wilayah yang sangat besar kontribusinya
terhadap keberlangsungan pelayanan kesehatan ibu
dan anak, maka perlu dilakukan upaya atau strategi
manajemen sumber daya manusia khususnya dalam
pengelolaan dan rekruitmen bidan di kabupaten
Serdang Bedagai.
2. Pengaruh Sosio Demografi terhadap
Keinginan Pindah Kerja Bidan
Sosio demografi berkaitan dengan ciri
individu seperti umur, jenis kelamin dan karakter
sosial seperti pendidikan, pekerjaan, status
perkawinan, kedudukan atau jabatan dalam suatu
organisasi18.
Berdasarkan kelompok umur, terdapat 55,0%
responden berusia ≤ 30 tahun, dan 45% usia >30
tahun, dengan status kawin 88,7%, berstatus PTT
sebesar 76,3% dan 23,8% berstatus Pegawai Negeri,
jabatan responden mayoritas sebagai bidan pelaksana
(91,3%), dan dengan masa kerja sebesar 86,3% ≤3
tahun. Keadaan tersebut menunjukkan bahwa profesi
bidan yang aktif di kabupaten Serdang Bedagai
merupakan usia muda dan umumnya pegawai tidak
tetap dengan masa perekrutan 2005 sampai 2007, dan
dengan usia muda tersebut tentunya hanya sebagai
bidan pelaksana, artinya bidan tersebut hanya
melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai bidan
dalam memberikan pelayanan asuhan kebidanan
kepada masyarakat, bukan sebagai penanggung jawab
atas kerja bidan lainnya dan koordinator bidan di
wilayah kerjanya1.
Berdasarkan kelompok umur, diketahui usia
>30 tahun mempunyai proporsi tertinggi (83,3%)
terhadap keinginan pindah. Hal ini disebabkan oleh
masa kerjanya yang sudah lama pada daerah sekarang
ini, sehingga muncul keinginan untuk mencari
suasana baru seperti dekat dengan perkotaan atau
keramaian.
Berdasarkan status kepegawaian, jabatan dan
masa kerja relatif tidak terdapat perbedaan proporsi
yang menyolok terhadap keinginan pindah kerja
bidan, yaitu responden dengan status kepegawaian
terdapat 31,6% PNS mempunyai keinginan pindah
dari lokasi kerja sekarang ini. Hal ini disebabkan
Jurnal Manajemen Bisnis, Volume 1, Nomor 2, Mei 2008: 59 - 68
63
mereka yang PNS merasa suasana kerja ditempat
sekarang ini ”tidak menguntungkan” bagi mereka.
Selain itu PNS juga mempunyai orientasi untuk
mempunyai jenjang karir yang mapan dibandingkan
hanya sebagai bidan koordinator. Dengan pindah dari
lokasi kerja saat ini berpeluang untuk dapat
mengembangkan diri baik secara struktural maupun
perkembangan pengetahuan dan ruang lingkup
pekerjaan. Selain itu dengan status PNS seorang bidan
dapat membuka praktek bidan, sementara di lokasi
kerja saat ini kemungkinan sudah ada praktek bidan
lain dan biasanya lokasi yang dipilih terlebih dahulu
dijajaki dan dilakukan pendekatan dengan kepala
puskesmas supaya ditempat di lokasi yang
”menguntungkan’ secara ekonomis
Namun secara secara kumulatif bahwa tidak
ada perbedaan proporsi karakteristik sosio demografi
dengan keinginan pindah kerja bidan di Kabupaten
Serdang Bedagai, dan hasil uji statistik juga tidak
menunjukkan pengaruhnya dengan keinginan pindah.
Hal ini mengindikasikan bahwa variabel
sosiodemografi secara keseluruhan tidak memberikan
kontribusi dan tidak representatif terhadap keinginan
pindah kerja bidan di kabupaten Serdang Bedagai.
Berdasarkan jabatan dalam profesi bidan di
daerah, bahwa tidak ada perbedaan proporsi antara
bidan pelaksana (28,8%) dengan bidan koordinator
(28,6%) terhadap keinginan pindah kerja bidan.
Namun ada 0,2% lebih tinggi pada bidan pelaksana,
sehingga dapat juga memberikan kontribusi terhadap
perpindahan kerja bidan, karena perbedaan jabatan
berimplikasi terhadap beban tugas dan tanggung
jawab, artinya bidan koordinator lebih banyak
tugasnya dibandingkan dengan bidan pelaksana,
sehingga dengan banyaknya tugas-tugas yang harus
diselesaikan berdampak terhadap kebosanan bekerja.
Berdasarkan masa kerja terdapat 30,4% bidan
dengan masa kerja >3 tahun mempunyai keinginan
pindah kerja ke lokasi kerja lainnya. Hal ini
disebabkan karena semakin lama mereka bekerja di
lokasi kerja sekarang, muncul rasa bosan terhadap
rutinitasnya dengan menghadapi masyarakat yang
sama dan keinginan merubah suasana lingkungan
kerja yang dihadapinya. Suasana kerja pada organisasi
publik dengan ”objek” yang dihadapinya masyarakat
berbeda dengan organisasi private dimana objek yang
dihadapinya adalah barang atau mesin. Hal ini erat
hubungannya dengan tarif yang harus ditetapkannya,
dimana bidan dengan masa kerja yang lama tentunya
sudah dikenal dan sudah terbiasa dengan pelayanan
yang diberikan termasuk dengan jumlah biaya yang
harus dikeluarkan terhadap tindakan yang diberikan
oleh bidan. Hal ini bagi bidan menyulitkan mereka
untuk menetapkan tarif, apalagi ada bidan lain di
daerah lain yang sudah menaikkan tarif, karena bidan
setiap bulannya ada pertemuan di Dinas Kesehatan,
sehingga saling membicarakan jumlah tarif yang
mereka tetapkan.
Meskipun demikian, secara statistik dengan
uji regresi logistik menunjukkan variabel masa kerja
tidak menunjukkan pengaruh signifikan dengan
keinginan pindah kerja, namun secara parsial hal
tersebut memberikan kontribusi sebagai salah satu
faktor ingin pindah dari lokasi pekerjaan sekarang.
Hal ini disebabkan bahwa secara distribusi frekuensi
jumlah bidan dengan masa kerja <3 tahun lebih besar
persentasenya dibandingkan dengan masa kerja ≥3
tahun, sehingga secara distribusi tidak menunjukkan
perbedaan. Akan tetapi kecenderungan perpindahan
bidan tidak didasarkan pada masa kerja, karena
kemanapun bidan ingin pindah juga berhadapan
dengan hal yang sama, dan tidak mengubah masa
kerjanya, khususnya bagi PNS, dan bagi PTT dapat
memperpanjang masa kerjanya.
Berdasarkan status pegawai, bidan PTT
meskipun status mereka tidak tetap, tenaga PTT telah
mendapatkan jaminan dari pemerintah untuk diangkat
menjadi PNS bagi mereka dengan dedikasi tinggi dan
masa kerja lebih lama, apalagi hal tersebut sudah
diatur dan dijamin dengan peraturan yaitu Kepmenkes
No.1540/Menkes/ SK/II/2002, pasal 20 bahwa
”tenaga medis sebagai pegawai tidak tetap pusat yang
telah menyelesaikan masa baktinya (3 tahun) dapat
melanjutkannya untuk periode selanjutnya dan
berikutnya dapat mengikuti seleksi CPNS” dan
menurut pasal 26 bahwa ”perpindahan tempat tugas
tersebut dilaksanakan atas persetujuan kepala daerah
jika ia ingin pindah antar kabupaten, namun jika antar
daerah atas persetujuan kepala satuan kerja perangkat
daerah masing-masing”, sehingga kecil kemungkinan
untuk pindah kecuali ada faktor lain seperti desakan
keluarga, atau ada lokasi kerja lain yang lebih
menguntungkan seperti rumah sakit swasta dengan
gaji lebih besar
Perbedaan sosio-demografi tidak memberikan
alasan yang kuat untuk pindah dari wilayah kerja ke
wilayah kerja lain, karena pekerjaan bidan tidak
memandang kelompok usia, status PNS atau PTT,
karena tugas pokok dan fungsinya sama antar bidan.
Demikian juga dengan jabatan bidan, hanya
berbeda beban tanggung jawab, dimana bidan
koordinator mempunyai tanggung jawab
mengakomodir seluruh bidan-bidan yang ada di
wilayah kerja suatu puskesmas dan biasanya tidak
terlalu sulit hanya dalam bentuk pengawasan, dan
aspek administrasi seperti mengakomodir kebutuhan
fasilitas medis, penyusunan angka kredit bidan.
Namun berdasarkan pengamatan lapangan hal tersebut
cenderung dilakukan sendiri oleh bidan yang
bersangkutan hanya membutuhkan surat keterangan
Muhammad Surya Desa, Endang Sulistya Rini, dan Syarifah Pengaruh Sosiodemografi dan Karakteristik…
64
dari kepala puskesmas dan bukan melalui bidan
koordinator.
Perbedaan masa kerja, juga juga tidak dapat
menjadikan alasan yang kuat untuk pindah, karena
bagi PTT dengan masa kerja sudah mencapai 3 tahun
dapat mengusulkan kembali untuk diangkat menjadi
PTT dengan masa kerja 3 tahun kedepan, sampai
menunggu proses ”pemutihan” untuk diangkat
menjadi PNS. Sedangkan bagi PNS, semakin tinggi
masa kerjanya justru memberikan keuntungan dari
aspek gaji, yaitu penambahan tunjangan baik
golongan atau pangkat dan cenderung dapat menjadi
referensi bagi promosi jabatan di puskesmas, seperti
menjadi penanggung jawab program Kesehatan Ibu
dan Anak bahkan ada yang menjadi kepala tata usaha
di puskesmas.
3. Pengaruh Beban terhadap Keinginan Pindah
Bidan
Beban kerja merupakan salah satu ciri dari
karakteristik pekerjaan18. Lingkungan kerja bidan
cenderung bersifat sosial, seperti dukungan sosial,
hubungan kerja, beban kerja, kompensasi, kualitas
kehidupan pekerjaan, birokrasi organisasi
(puskesmas), dan sosial budaya12,17.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
berdasarkan beban kerja, bidan yang bekerja di
wilayah kerja puskesmas se-Kabupaten Serdang
Bedagai menunjukkan beban kerja kategori rendah.
Beban kerja tersebut diukur berdasarkan
tanggapan terhadap uraian tugasnya dan segala
sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaanya.
Mayoritas bidan (87,5%) tidak ada batas waktu kerja,
artinya bidan sebagai tenaga ”pelayanan” pada setiap
waktu, siang atau malam hari, namun ada 12,5% yang
menyatakan batasan kerja karena responden tersebut
merupakan pegawai puskesmas pembantu dengan jam
kerja dari jam 800-1400 wib dan berstatus PNS.
Hal menarik adalah ada 86,3% menyatakan
nyaman bekerja sebagai bidan, 85,0% masyarakat
tidak mau bekerja sama dengan bidan dalam
memberikan pelayanan kesehatan. Bentuk kerjasama
tersebut seperti memberikan bantuan jika mereka
harus melayani pasien di daerah yang sulit ditempuh.
Keadaan tersebut memberikan indikasi bahwa
pelayanan yang diberikan oleh bidan bukan
merupakan kebutuhan bagi semua masyarakat artinya
rasa sosial masyarakat sudah mulai memudar, dan
menganggap pekerjaan bidan adalah tanggung jawab
bidan sendiri, sehingga bagi bidan hal tersebut
memberikan kontribusi pemikiran sebagai bagian dari
beban kerja yang berat. Hal tersebut didukung oleh
ketidakpercayaan yaitu 97,5% tidak percaya terhadap
tindakan asuhan kebidanan yang dilakukan bidan.
Ketidak-percayaan tersebut berkenaan dengan
tindakan persalinan bagi pasien yang sudah tua dan
pasien yang melahirkan anak pertama, artinya mereka
”kuatir” akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan
seperti kematian bayi mereka atau ibu yang
melahirkan, apalagi bidan yang menangani tersebut
berusia muda dan masih baru. Namun hasil penelitian
menunjukkan 72% responden menyatakan tidak
keberatan jika mereka ikut dalam berbagai aktivitas
kemasyarakatan seperti adat istiadat setempat.
Beban kerja bidan juga dipengaruhi oleh
ketersediaan faslitas kerja seperti bidan kit dan sepeda
motor. Hasil penelitian menunjukkan namun 95%
responden menyatakan kesulitan memperoleh
peralatan medis seperti bidan kit.
Hal ini terjadi karena jumlah bidan kit dan
sepeda motor masih terbatas dan belum merata,
karena alokasi pengadaan untuk bit kit dan sepeda
motor masih terbatas dalam anggaran, namun tahun
2008 sudah diupayakan pengadaan bidan kit sebanyak
104 paket, dengan harapan menutupi kekurangan
bidan memperoleh bidan kit.
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa
pekerjaan bidan bukan merupakan pekerjaan sulit,
sebagian besar mereka menganggap bahwa pekerjaan
bidan adalah pekerjaan mulia dan mereka menjadi
primadona didaerah kerja mereka, sehingga mereka
sangat menikmati pekerjaannya. Dengan demikian
banyak masyarakat simpati terhadap bidan-bidan yang
bekerja di daerahnya, dan menempatkan mereka pada
posisi tinggi dalam strata sosial mereka Apalagi jika
mereka mempunyai perilaku yang ramah, lues, suka
menolong dan tidak menetapkan tarif atas pelayanan
yang diberikan.
Berdasarkan tabulasi silang, hubungan
variabel beban kerja dengan keinginan pindah bidan
di Kabupaten Serdang Bedagai relatif menunjukkan
perbedaan proporsi. Proporsi responden dengan beban
kerja tinggi, hanya 33,3% mempunyai keinginan
untuk pindah kerja, dan hanya 27,1% responden
dengan beban kerja rendah yang ingin pindah,
selebihnya cenderung tetap bertahan pada lokasi kerja
sekarang. Kecenderungan bidan yang tetap bertahan
tersebut karena mereka satu-satunya bidan yang ada di
wilayah tersebut, serta sudah mempunyai masa kerja
kurang dari 3 tahun. Namun berdasarkan hasil uji
regresi logistik menunjukkan tidak ada pengaruh
beban kerja dengan keinginan pindah kerja bidan,
dengan nilai p=0,369 (p<0,05).
Adanya perbedaan proporsi antara beban kerja
yang tinggi dengan beban kerja rendah pada bidan
berkaitan dengan kondisi geografi jika mereka harus
memberikan pelayanan ke daerah yang sulit, serta dan
minimnya fasilitas kerja seperti bidan kit guna
mendukung proses pelayanan asuhan kebidanan,
karena mereka harus membeli sendiri peralatan
Jurnal Manajemen Bisnis, Volume 1, Nomor 2, Mei 2008: 59 - 68
65
kesehatan tersebut sehingga mereka cenderung
berfikir untuk pindah, apalagi ada rekan kerjanya di
daerah lain yang sudah mendapatkan fasilitas tersebut.
4. Pengaruh Hubungan Kerja terhadap
Keinginan Pindah Kerja Bidan
Hasil penelitian berdasarkan hubungan kerja,
menunjukkan relatif tidak berbeda antara hubungan
kerja yang baik dan kurang. Hubungan kerja tersebut
dapat dilihat dari beberapa indikator utama seperti ada
tidaknya konflik sesama bidan, atau tenaga medis lain,
adanya bentuk kepedulian terhadap sesama bidan atau
tenaga medis lain seperti membantu kesulitan mereka,
mendengar saran dan kritikan.
Hasil penelitian menunjukkan masih ada
16,3% bidan tidak mau bersosialisasi dengan bidan
lainnya. Bentuk sosialisasi tersebut mengarah kualitas
pelayanan yang mereka berikan kepada masyarakat,
serta jumlah tarif yang ditetapkan demikian juga
dengan informasi kenaikan pangkat atau promosi
lainnya seperti pelatihan-pelatihan, karena akan
menimbulkan kecumburan dan konflik antar bidan.
Hal ini tercermin dari 71,2% responden tidak mau
membantu kesulitan sesama bidan, khususnya
menyangkut masalah keuangan. Hal ini bagi mereka
masalah keuangan merupakan masalah yang ”sensitif’
dalam hal kehidupan dan masing-masing mempunyai
kebutuhan.
Indikasi lain dari hubungan kerja tersebut,
diketahui 42,5% bidan mempunyai konflik sesama
bidan. Konflik tersebut disebabkan oleh persaingan
terhadap usulan menjadi PNS bagi PTT, dimana ada
sebagian bidan dengan jumlah tahun kerja yang sama
malah terlebih dahulu diangkat menjadi PNS,
sedangkan bagi PNS berkaitan dengan kenaikan
pangkat dan promosi jabatan seperti penanggung
jawab program selain itu juga akibat perbedaan
jumlah tarif atas tindakan pelayanan asuhan kebidanan
di masyarakat. Hal ini didukung informasi pernah
terjadi konflik konflik dengan paramedis lainnya
(26,3%). Konflik ini tercipta karena bagi bidan,
tindakan pelayanan kesehatan yang dilakukan juga
dapat dilakukan oleh bidan, namun sebaliknya bagi
perawat atau dokter umum tidak dapat melakukan
pekerjaan seperti yang bidan lakukan yaitu melakukan
pertolongan persalinan. Hal tersebut berimplikasi
terhadap persaingan sesama tenaga medis, sehingga
hubungan sesama tenaga medis tidak harmonis.
Kaitannya dengan keinginan pindah bidan
diketahui bidan dengan hubungan kerja yang baik
21,3% mempunyai keinginan untuk pindah lokasi
kerja, dan proporsi bidan dengan hubungan kerja
kategori kurang terdapat 39,4% mempunyai keinginan
untuk pindah lokasi kerja. Hasil ini didukung oleh
hasil uji regresi logistik, bahwa terdapat pengaruh
signifikan antara hubungan kerja dengan keinginan
pindah kerja bidan dengan nilai signifikansinya
sebesar 0,013 (p<0,05), pada nilai B=5,517, artinya
keinginan pindah kerja bidan dengan semakin tidak
baiknya hubungan kerja sesama rekan kerja atau
paramedis lainnya.
Hubungan kerja yang baik dapat menjadi
faktor paling penting untuk mengurangi prasangka
dan dapat menghindari konflik sesama rekan kerja.
Hubungan kerja erat kaitannya dengan hubungan
manusia (human relation) dan bersifat aktif, artinya
adanya pengintegrasian orang-orang dalam suatu
situasi kerja yang menggiatkan mereka untuk bekerja
bersama-sama dan saling membantu dengan rasa puas
dalam psikologi dan sosial13. Namun hubungan kerja
tersebut tidak selamanya baik tergantung bagaimana
seseorang dapat menetralisirnya.
5. Pengaruh Dukungan Sosial terhadap
Keinginan Pindah Bidan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 76,3%
responden memperoleh dukungan dari keluarga atau
suami seperti mendengarkan setiap keluhan-keluhan
yang dialami dalam pekerjaannya, namun hanya
55,0% menyatakan dibantu oleh keluarga atau suami
dalam bentuk konkrit membantu dalam setiap
tindakan pelayanan kebidanan kepada masyarakat,
seperti mengantar ke lokasi kerja, atau pembelian obat
ke apotik.
Berdasarkan aspek dukungan masyarakat,
73,8% responden menyatakan memperoleh bantuan
dari masyarakat dalam memberikan pelayanan
kebidanan pada masyarakat, namun bentuk-bentuk
dukungan tersebut berbeda-beda, misalnya 67,5%
bidan ditemani ke lokasi sulit dalam memberikan
pelayanan responden menyatakan tidak ditemani oleh
warga dan memfasilitasi bidan, seperti penginapan
jika sudah kemalaman.
Selain itu indikasi adanya dukungan sosial
terhadap bidan dapat dilihat dari keikutsertaan dalam
organisasi kemasyarakatan, dan adanya pengucilan
terhadap bidan.
Hasil penelitian menunjukkan 80% responden
menyatakan dilibatkan dalam organisasi
kemasyarakatan seperti kelompok arisan, dan PKK,
dan 90% menyatakan tidak merasa dikucilkan oleh
masyarakat selama bertugas diwilayah kerja mereka,
hal ini didukun dengan 86,3% responden menyatakan
tidak pernah ditegur oleh tokoh masyarakat, atau
perangkat desa seperti kepala desa/dusun terhadap
tingkah laku, dan hasil tindakan pelayanan yang
diberikan kepada masyarakat.
Dukungan sosial tersebut erat kaitannya
dengan keinginan pindah kerja dari lokasi kerja dan
mengambil keputusan untuk segera pindah meskipun
Muhammad Surya Desa, Endang Sulistya Rini, dan Syarifah Pengaruh Sosiodemografi dan Karakteristik…
66
dengan berbagai konsekuensi. Secara umum terdapat
52,5% dukungan sosial terhadap bidan di Kabupaten
Serdang Bedagai kategori rendah, dan dukungan
sosial kategori tinggi sebesar 47,5%. Hal ini berarti
akumulasi dari indikator dukungan sosial tidak
semuanya memberikan gambaran positif terhadap
dukungan sosial kepada bidan dalam memberikan
pelayanan kebidanan atau keberadaannya di
lingkungan tempat bekerja.
Berdasarkan hasil tabulasi silang
menunjukkan bahwa responden dengan dukungan
sosial rendah 35,7% ingin pindah kerja dibandingkan
dengan dukungan sosial tinggi.. Hal ini menunjukkan
bahwa proporsi rendahnya dukungan sosial dapat
menimbulkan keinginan pindah kerja bidan dari lokasi
sekarang. Hasil penelitian ini didukung oleh hasil uji
regresi logistik bahwa dukungan sosial berpengaruh
terhadap keinginan pindah kerja bidan, dengan nilai
p=0,002 (p<0,05).
Semakin besar dukungan masyarakat terhadap
tenaga kesehatan yang ada, peluang ingin pindah
semakin kecil. Temuan ini memperkuat variabel
dukungan sosial yang konsisten dalam hubungannya
dengan pindah kerja15,17. Dukungan masyarakat
menciptakan hubungan yang harmonis dengan bidan,
dan sebaliknya hubungan yang tidak baik akan
menyebabkan konflik yang berakibat pada stres
pekerjaan.
Hubungan sosial yang menunjang dengan
rekan, atasan tidak akan menimbulkan tekanantekanan
antar pribadi yang berhubungan dengan
persaingan. Kelekatan kelompok, kepercayaan antar
pribadi dan rasa senang dengan atasan berhubungan
dengan penurunan dari stres pekerjaan.
Dukungan sosial memiliki pengaruh cukup
besar dalam mendukung aspek psikologis
tenaga/karyawan, sehingga mereka mampu bekerja
dengan tenang, konsentrasi, loyal, termotivasi dan
mempunyai komitmen yang tinggi terhadap
organiasinya. Sedangkan karyawan/tenaga yang
kurang atau tidak mendapatkan dukungan sosial bisa
mengalami frustasi, stres dalam bekerja sehingga
prestasi kerja menjadi buruk, dan dampak lainnya
adalah tingginya absensi kerja, keinginan pindah
tempat kerja bahkan sampai pada berhenti
bekerja13,14,18.
Keinginan pindah bidan di Kabupaten
Serdang Bedagai sangat berhubungan dengan
dukungan dari masyarakat di lokasi kerjanya, baik
dalam bentuk keikutsertaan mereka dalam aktivitas
kemasyarakatan, maupun adanya kepercayaan
masyarakat terhadap pelayanan kebidanan yang
diberikan kepada ibu hamil, bersalin dan nifas serta
masyarakat secara keseluruhan.
6. Pengaruh Kompensasi terhadap Keinginan
Pindah Bidan
Kompensasi adalah hal yang diterima oleh
bidan, baik berupa uang atau bukan uang sebagai
balas jasa atas tindakan pelayanan yang diberikan
kepada masyarakat maupun keterikatannya dengan
pemerintah, seperti pegawai negeri dan pegawai tidak
tetap. Dilihat dari aspek gaji tetap, ada perbedaan
jumlah gaji antara Bidan PTT dengan PNS. Perbedaan
ini didasari oleh status dan alokasi anggaran tetap dari
pemerintah. Beberapa indikator dari pemberian
kompensasi antara lain adanya tunjangan, bonus,
insentif (jasa), fasilitas yang mendukung pelaksanaan
pelayanan asuhan kebidanan kepada masyarakat.
Hasil penelitian menunjukkan, 95%
menyatakan tidak pernah memperoleh insentif (jasa)
dalam bentuk uang atau bukan dari kepala puskesmas,
demikian juga 82,5% menyatakan tidak pernah
memperoleh tunjangan hari-hari besar, dan 92,5%
juga tidak mendapatkan bonus dari kepala puskesmas
untuk hasil pekerjaan yang dilakukan oleh bidan
dalam memberikan pelayanan kebidanan.
Berdasarkan pemberian kompensasi dari
masyarakat dalam bentuk pujian, 76,3% menyatakan
memperoleh pujian atas hasil pelayanan yang
diberikan kepada masyarakat, namun sebagian besar
(87,5%) tidak mendapatkan penghargaan dari
perangkat desa seperti bidan terbaik atau sejenisnya
dalam bentuk pengusulan sebagai bidan terbaik pada
acara-acara tertentu misalnya acara kesehatan
nasional, atau acara ulang tahun kabupaten. Indikator
kompensasi lainnya seperti informasi pengembangan
karir dan fasilitas juga menunjukkan perbedaan
persentase, dimana 66,3% menyatakan memperoleh
informasi pengembangan karir dari Dinas Kesehatan
seperti pelatihan, dan usulan diangkat menjadi PNS
bagi PTT. Demikian juga dari kepala puskesmas
terdapat 61,3% menyatakan pernah memperoleh
informasi pengembangan karir dari kepala puskesmas
langsung, khususnya berkenaan dengan adanya
pelatihan atau seminar, namun dilihat dari fasilitas,
mayoritas responden (85,0% menyatakan tidak
memperoleh fasilitas kenderaan bermotor, 92,5%
menyatakan tidak memperoleh fasilitas bidan kit
dalam menunjang pelayanan asuhan kebidanan
kepada masyarakat, selain itu mayoritas responden
(83,8%) menyatakan tidak puas terhadap gaji yang
diterimanya sebagai bidan baik PTT maupun PNS.
Bidan yang tidak pernah memperoleh
kompensasi dalam bentuk insentif, tunjangan dan
bonus dari kepala puskesmas cenderung disebabkan
oleh tidak adanya alokasi dana yang khusus untuk
pemberian kompensasi kepada pegawainya. Selain itu
juga disebabkan oleh rendahnya kepedulian kepala
puskesmas terhadap evaluasi kinerja bidan di wilayah
Jurnal Manajemen Bisnis, Volume 1, Nomor 2, Mei 2008: 59 - 68
67
kerjanya yang terwujud dari minimnya pengawasan,
dan tidak adanya penghargaan kepada mereka yang
berprestasi, selain itu kurangnya frekuensi pertemuan
bidan koordinator dan pertemuan bidan di Dinas
Kesehatan, kurang apalagi bagi bidan PTT gaji yang
diterimanya sudah langsung dapat diambil melalui Pos
Indonesia, sedangkan bidan PNS berdasarkan
pengamatan peneliti ke Dinas Kesehatan hanya untuk
mengambil gaji setiap bulannya, sedangkan upaya
pencarian informasi lainnya relatif kurang.
Selain itu minimnya penghargaan dari
perangkat desa juga mempunyai alasan yang serupa,
dan cenderung menganggap prestasi yang diwujudkan
oleh bidan di desa mereka masih merupakan hal yang
wajar, dan merupakan tugas dan kewajiban bidan.
Hasil uji regresi logistik, pada taraf nyata 95%
menunjukkan variabel kompensasi tidak mempunyai
pengaruh signifikan terhadap keinginan pindah kerja
bidan di Kabupaten Serdang Bedagai dengan nilai
probabilitas 0,889 (p<0,05). Pemberian kompensasi
pada tenaga kesehatan yang bekerja di institusi
pemerintah tidak berpengaruh terhadap pemenuhan
kebutuhannya, khususnya bidan PNS, dimana dilihat
dari aspek pengembangan karir berstatus fungsional,
dan masa pensiunnya jauh lebih lama dari pada tenaga
kesehatan lain yang berstatus sktruktural. Selain itu
bagi bidan PTT, dilihat dari aspek promosi dan
pengembangan karir, mereka yang sudah terdaftar
sebagai tenaga honorer dalam database kepegawaian
nasional yang akan diangkat menjadi PNS, sehingga
keinginan pindah ke wilayah kerja lain relatif kecil,
karena akan mempersulit mereka dalam aspek
administrasi seperti pengurusan nota dinas, surat
keterangan telah melaksanakan tugas3.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan,
maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Persentase bidan yang ingin pindah di kabupaten
Serdang Bedagai sebesar 28,8%.
2. Variabel karakteristik sosio demografi tidak
mempunyai pengaruh terhadap keinginan pindah
kerja yang terdiri dari umur status perkawinan,
status kepegawaian, jabatan, masa kerja.
Berdasarkan karakteristik pekerjaan, variabel
hubungan kerja dan dukungan sosial, berpengaruh
signifikan terhadap keinginan pindah kerja bidan,
namun variabel beban kerja dan kompensasi tidak
mempunyai pengaruh siginifikan terhadap
keinginan pindah kerja bidan di Kabupaten
Serdang Bedagai.
Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat
disarankan agar lebih intensif dalam meningkatkan
pertemuan dengan bidan baik dilakukan di Dinas
Kesehatan maupun secara bergilir di setiap Puskesmas
dengan melibatkan perangkat desa dan tokoh
masyarakat, perlu perencanaan perekrutan bidan
sesuai kebutuhan, dan penempatan bidan yang
diusulkan harus mengacu pada karakteristik sosial dan
budaya masyarakat setempat, sehingga bidan yang
ditempatkan dapat mudah bersosialisasi dan diterima
oleh masyarakat.
Memfasilitasi pertemuan bidan dan tenaga
medis lain secara berkala setiap bulannya, guna
mengidentifikasi permasalahan kesehatan maupun
permasalahan antar tenaga medis, sehingga akan
tercipta keharmonisan dalam memberikan pelayanan
kesehatan sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya
masing-masing tenaga medis.
Perlu dilakukan advokasi kepada pemerintah
daerah tentang pengelolaan pegawai tidak tetap,
karena formasi kebutuhan bidan ditetapkan langsung
oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia,
sehingga tidak terakomodir kebutuhan tenaga bidan di
daerah.
DAFTAR PUSTAKA
1. Badan Kepegawaian Daerah (BKD), 2006. Surat
Edaran Penerimaan Tenaga Honor/Kontrak di
Lingkungan Pemerintahan Daerah Kabupaten
Serdang Bedagai, Sei Rampah
2. Depkes RI,2002a. Keputusan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia No.1540/Menkes/SK/XII/
2002 tentang Penempatan Tenaga Medis melalui
Masa Bakti dan Cara Lain, Jakarta
3. Depkes RI,2002b. Pendayagunaan Tenaga Non
PNS dalam Otonomi Daerah. Badan
Pengembangan SDM Departemen Kesehatan RI,
Jakarta.
4. Depkes RI,2004. Keputusan Menteri Kesehatan
No.900/Menkes/SK/VII/2002 tentang Registrasi
dan Praktik Bidan, Jakarta
5. Depkes RI,2005a. Pedoman Pemantauan Wilayah
Setempat Kesehatan Ibu dan Anak (PWS-KIA).
Bina Kesmas Depkes RI, Jakarta
6. Depkes RI, 2005b. Rencana Strategis Departemen
Kesehatan Republik Indonesia 2005-2009,
Jakarta
7. Depkes RI,2007. Keputusan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia No mor 369/MENKES/SK/
III/2007 tentang Standar Profesi Bidan, Jakarta
8. Dinas Kesehatan Kabupaten Serdang Bedagai,
2006. Hasil Survei Kesehatan Daerah Tahun
2005. Sei Rampah
Muhammad Surya Desa, Endang Sulistya Rini, dan Syarifah Pengaruh Sosiodemografi dan Karakteristik…
68
9. Dinas Kesehatan Kabupaten Serdang Bedagai,
2006. Profil Kesehatan Kabupaten Serdang
Bedagai. Sei Rampah.
10. Dinas Kesehatan Kabupaten Serdang Bedagai,
2008. Data Kepegawaian Dinas Kesehatan
Kabupaten Serdang Bedagai. Sei Rampah.
11. Gerungan, W. A, 2004, Psikologi Sosial, Refika
Aditama, Bandung
12. Jewell dan Siegall, 1998. Psikologi Industri
Organisasi Modern, Edisi II, Arcan.
13. McCarthy, dkk, 2002. National Study of
Turnover in Nursing and Midwifery.
Departement of Nursing Studies University
College Cork National University of Ireland Cork
14. Muchinsky, Paul M, 1993. Psychology Applied to
Work (4th Edition). New York: Brooks/Cole
Publishing Company
15. Munandar, A.S, 2001. Psikologi Industri dan
Organisasi, UI Press, Jakarta
16. Mobley,W.H.,1982. Employee, Turnover: Cause
Consequences, and Control.Addison-Weley
Publiching Company, Inc. Philipines
17. Munandar, A.S, 2001. Psikologi Industri dan
Organisasi, UI Press, Jakarta
18. Steers, Richard., 1987. Motivation and Work
Behaviour. Fourth Edition, McGraw-Hill Book
Company, USA
19. Tai, T.W.C., Bame, S and Robinson, 1998.
Review of Nursing Turnover Research 977-1996,
Journal Soc. Sci Medical. New York